Monday, 8 October 2012

Buta Aksara Al Quran


Oleh : Udi Wahyudi


          Guru MDA Tawaf Al Ikhlas


Berdasarkan dara yang diperoleh daru Unit Kegiatan Mahasiswa Baca Alquran Intensif Universitas Pendidikan Indonesia, dari 2.088 mahasiswa baru UPI semester ganjil tahun 2012/2013 yang mengikuti tes baca Alquran, 1.521 orang (72,8 persen) dinyatakan �belum mampu� membaca Alquran dengan baik, tidak jau berbeda dengan hasil tes enam semester sebelumnya.
Sebagai umat Islam yang tengah digonjang-ganjing dari berbagai penjur, sudah sepantasnya kta semakin menjadikan Alquran sebagai pegangan hidup kita. Jika berbicara ideal, mestinya kita memahami kandungan isi Alquran. Berdasarkan realita yang terjadi, dapat disimpulkan jika baru sebagian kecil saja yang mencapai criteria tersebut.
�Ada asap, ada api�. Jika tidak ada sebab, tidak mungkin terjadi akibat yang berarti. Menurut Slameto dalam �Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya�, secara garis besar factor penyebab gagal atau berhasil dalam mempelajari sesuatu dikelompokkan menjadi factor intern dan ekstern.
Faktor internal dibatasi hanya factor psikologis, yaitu perhatian dan minat. Jika anak sudah tidak memiliki perhatian untuk belajar Alquran, jangan harap ia akan pandai membacanya. Apabila anak kehilangan minat untuk mempelajari Alquran, karena penyampaiannya kurang menarik atau tujuannya kurang jelas, anak pun tidak akan bertahan lama dalam mempelajarinya.
Adapun faktor ekstern pertama yang mempengaruhi dalam belajar membaca Alquran adalah orang tua. Peran orang tua sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anak. pada kenyataannya, orang tua sekarang ini lebih mengusahakan anaknya untuk ikut les olah raga, matematika, atau bahasa Inggris, ketimbang les mengaji. Hal inilah yang menyebabkan anak tidak mengenal Alquran. Padahal, di akhirat sana tidak ada satu pun dalil yang mengatakan manusia akan ditanyai matematika, bahasa Inggris, atau disuruh lomba olah raga renang.
Faktor eksternal berikutnya adalah media hiburan. Dimungkiri atau tidak, kekhusyukan siswa saat ini dalam belajar Alquran sudah terganggu oleh berbagai acara hiburan. Misalnya saja media jejaring sosial dengan berbagai fiturnya yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak membosankan. Stasiun televise pun berlomba-lomba membuat beragam acara menarik untuk membuat pemirsanya betah menonton nya berlama-lama. Belum lagi game online yang memiliki magnet tersendiri. Faktor eksternal terakhir adalah tidak tersedianya wahana pembelajaran Alquran. Di kota-kota besar atau pedesaan yang agamis, wahana pengajian mungkin masih menjamur. Naming, kondisi berbeda akan terjadi di tempat-tempat tertentu yang langka ustaz. Bahkan untuk mencari orang yang azan dan mau menjadi imam salat pun sulit.
Oleh karena itu, perhatian seluruh elemen, mulai dari pemerintah sebagai pemegang otoritas melalui Kemenag atau dinas terkait lainnya, orang tua, dan sekolah tempat mereka bersosialisasi, sangat dibutuhkan. Kesemuanya itu bermuara pada munculnya generasi Muslim yang kian dekat dengan Alquran.

Saturday, 6 October 2012

Solusi Mengatasi Tawuran Pelajar

Oleh : Satrio Wahono
          Sosiolog dan Magister Filsafat UI
          Artikel ini pernah dimuat di rubrik Podium
          Koran Tribun Jabar, Jumat 28 September 2012
-->
Wajah dunia  pendidikan kita lagi-lagi tercoreng! Betapa tidak, hanya dalam waktu dua hari saja, tragedy tawuran yang menelan korban jiwa kembali terjadi. Yang pertama adalah tawuran pada senin (25/9/2012) anatar elajar SMA 6 dan 70, yang mengakibatkan Deni Yanuar, seorang siswa SMA 6, tewas terkena bacokan senjata tajam. Sementara peristiwa tawuran kedua terjadi di Manggarai, Jakarta Selatan, antara SMK Yayasan Karya 66 dan SMA Kartika Zeni yang juga menimbulkan korban jiwa seorang pelajar padaRabu (26/9/2012).
Tak pelak deretan kasus ini laksana tamparan serius bagi para stakeholders (pemangku kepentingan) dunia pendidikan kita. Sungguh kita patut mengurut dada betapa tawuran sudah menjadi fenomena yang meluas. Artinya, ilustrasi pendidikan kita tampaknya gagal mendidik siswa-siswa mereka menjadi pribadi yang diharpkan muncul dari pendidikan. Yaitu, mengutip Anita Lie dalam Cooperative Learning (2005), siswa menjadi manusia yang mandiri sekaligus mampu hidup berdampingan dan menunjang keberlangsungan hidup sesamanya.
Dua Mata Rantai
Sejatinya, ada dua mata rantai yang bisa teramati dari peristiwa tawuran di atas. Pertama, kondisi tawuran sebagai institusi atau pranata. Maksudnya, sebagai suatu nilai yang sudah demikian melembaga serta dihayati betul oleh para anggota suatu kelompok.
Dalam kerangka antropologi, tawuran adalah semacam perekat identitas khaas kelompok dan berperan sebagai ritus akilbalig atau inisiasi (rites of passage) bagi para anggota baru kelompok. Dalam masyarakat tradisional, ritus ini bisa berupa tudas perburuan hewan. Namun, dalam konteks sekolah yang memiliki budaya tawuran, ritusnya adalah tawuran itu sendiri.
Jadi, seorang pelajar-baru tidak akan dianggap sah menjadi bagian dari kelompok pelajar yang lebih besar jika dia tidakmelewati ritus akilbalik berupa tawuran. Sekaligus, ritus tawuran akan menegaskan identitas kelelakian seorang pelajar., sebuah prestasi yang kemudian bisa dibangga-banggakan kepada khalayak lebih luas. �Filosofi� ritus tawuran jadinya adalah upaya menunjukkan kekuatan fisik khas laki-laki yang militant atas orang lain. Akibatnya, terciptalah budaya militerisme.
Tanpa melakoni ritus tawuran, seorang pelajar akan diberikan stigma sebagai �warga kelas dua� atau warga belum dewasa yang tidak memiliki martabat dan hak penuh sebagaimana mereka yang sudah melewati tawuran. Stigma inferior itu juga tercermin dalam istilah-isilah ejekan yang dilekatkan kepada siswa anti-tawuran.
Kedua, aspek hilangnya keteladanan dan anutan (role model) bagi pelajar untuk mencontoh perilaku positif. Cakupan anutan yang biasanya berusia lebih tua itu-mulai dari orangtua, guru, kepala sekolah, hingga para penguasa kita. Inilah buah dari praktik-praktik tak patut pata �orang tua� kita yang menghiasi media dan layar kaca setiap hari. Yakni, praktik seperti korupsi, konflik antar kelompok, kebohongan public, dan lain-lain.
Solusi Konkret
Beranjak dari dua hal di atas, sebetulnya kita bisa merumuskan sejumlah solusi konkret demi memutus mata rantai tawuran yang sudah demikian melembaga. Pertama, mengalihkan rites of passage tawuran yang berbau militerisme kea rah budaya militer yang genuine (sungguhan). Maksudnya, para murid SMU bisa diberikan latihan kemiliteran selama, misalnya satu bulan, sebagai ganti program masa orientasi siswa (MOS). Tujuannya, supayasiswa mendapatkan nilai-nilai militer sejati yang positif: patriotisme, jiwa ksatria, kehormatan, etika, dan lain sebagainya. Dengan begitu, budaya militerisme berubah menjadi budaya militer yang lebih konstruktif. Pemberian latihan militer ini, sebagai contoh, juga sudah dicoba di sejumlah politeknik dan terbukti berhasil meredam potensi kekerasan di antara mahasiswa.
Kedua, kita semua seyogyanya mulai memberikan tingkah-laku penuh teladan kepada para generasi di bawah kita supaya tercipta rasa hormat siswa terhadap mereka yang lebih tua. Terutama lagi yang perlu memberikan teladan adalah orangtua, keluarga dekat adalah orangtua, keluarga dekat, dan guru. Sebab, merekalah yang pada hakikatnya bersentuhan langsung dan dari waktu ke waktu dengan siswa.
Terakhir, perlu diberikan suatu pelajaran etika, atau filsafat moral dalam bahasa Kees Bertens (Etika, 1995), dalam kurikulum SMU. Khususnya lagi, etika kepedulian itu seyogiayanya memasukkan kedelapan ciri kepedulian yang diberikan MC Raugust (1992). Satu, etika kepedulian mengutamakan hubungan saling peduli terhadap orang lain. Dua, orang dalam situasi khasnya masing-masing dapat menerima dan memberikan kepedulian itu.
Tiga, menjunjung tinggi individulisme. Maksudnya, masing-masing individu-sesama pelajar, wartawan, atau siapapun juga-wajib diterima sebagai pribadi yang unik dan karena itu mereka saling membutuhkan satu sama lain. Konsekuensinya, manusia harus mengutamakan saling memberi dan menerima saja kebaikan orang lain.
Empat, etika ini berfokus pada pribadi yang konkret, bukan pada sosok yang tak berwajah atau anonym. Lima, keputusan diambil berdasarkan universalitas situasi dan kondisi. Enam, hubungan antar manusia dipandang sebagai proses jangka panjang, bukan jangka pendek. Tujuh, kebaikan (virtue) lebih diutamakan daripada kewajiban berlaku adil (justice). Delapan, perasaan peduli haruslah diikuti dengan aksi yang mensyaratkan kompetensi atau kemampuan untuk melaksanakan aksi tersebut.
Berbekal solusi-solusi di atas, semoga di masa depan kita tidak akan menyaksikan lagi babakan kelam dunia pendidikanberupa tawuran seperti yang kerap terjadi dari waktu ke waktu.

Wednesday, 3 October 2012

Missing Link di Pendidikan Karakter

Oleh : Septiardi Prasetyo
          Guru di Yayasan Pendidikan Al-Hikmah, MI At-Taufiq, Kota Bandung

Kekerasan tampaknya bukan saja domain dunia premanisme saja. Dunia pendidikan kita pun sepertinya tidak luput dari pengaruh domain ini. Tawuran pelajar antar dua SMAN di Jakarta yang berujung maut merupakan salah satu anomali faktanya. Anomali karena peristiwa ini terjadi ketika pemerintah sedang gencar-gencarnya menerapkan pendidikan berbasis karakter, ketika pemerintah secara intensif dan sistematis sedang mengupayakan peningkatan kompetensi guru melalui program sertifikasi, ketika anggaran pendidikan telah jauh melampaui angka 200 trilliun pertahun.
Peribahasa guru kencing berdiri, siswa kencing berlari merupakan sindiran bagi kita para penggiat dunia pendidikan. Bisa saya pastikan, tak ada satu pun guru yang mengajarkan dan mencontohkan anak didiknya tawuran. Tak ada satu pun mata pelajaran yang membenarkan perilaku tawuran. Namun mengapa peristiwa yang merenggut nyawa para penerus bangsa ini masih marak terjadi?
Tawuran pelajar biasanya terjadi sesaat setelah mereka menikmati indahnya gempita dunia ilmu pengetahuan, sejuknya nilai-nilai akhlak mulia, tentramnya suasana lingkungan belajar. Tidak berlebihan bila kita bertanya pada diri kita sendiri, benih-benih apa yang telah kita tanamkan di sel-sel otak anak didik kita? Bekal apa yang kita titipkan di hati nurani mereka? Keterampilan apa yang telah kita latihkan kepada panca indera mereka untuk menghindari tawuran?
Sepertinya ada missing link yang kentara di dunia pendidikan karakter kita. Terdapat jurang pemisah yang teramat lebar yang mengakibatkan tumpulnya logika anak didik kita dalam mencegah dan menghindari perilaku tawuran. Sepertinya perlu adanya suatu strategi pembelajaran yang efektif dan aktif yang bisa digunakan dalam mencegah tawuran melalui upaya internalisasi nilai-nilai positif. Inilah yang menjadi sorotan Lickona(1992) dalam menanamkan komponen karakter baik (component of good character) pada anak didik perlu adanya tiga komponen mendasar yaitu pengetahuan tentang moral (moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling), dan perbuatan moral (moral action).
Pengetahuan tentang moral (moral knowing) merupakan komponen pertama yang harus ditanamkan pada diri setiap anak didik. Mereka harus bisa membedakan antara perbuatan terpuji dan sebaliknya. Mereka harus memahami keuntungan dan konsekuensi yang harus mereka terima bila mereka melanggarnya. Mereka harus memiliki pengetahuan tentang solusi bila dihadapkan pada kondisi yang mengarahkan mereka pada perbuatan yang bertentangan dengan moral-moral positif.
Banyak cara yang bisa digunakan dalam menanamkan pengetahuan tentang (moral knowing) dalam pembelajaran di kelas. Mulai dari menjelaskan apa itu moral yang baik beserta contoh-contohnya hingga menceritakan perjalanan hidup tokoh-tokoh inspiratif. Mereka pun dapat mencari dan mempelajarinya sendiri di buku-buku, internet dan media lainnya untuk kemudian di share dalam forum diskusi. Diharapkan mereka fondasi pengetahuan dan wawasan yang luas tentang moral yang baik.
Setelah anak didik memahami perilaku tawuran bukan termasuk moral yang baik. Begitupun memiliki pemahaman tentang konsekuensi akademik, sosial hingga hukum bagi para pelakunya. Upaya internalisasi nilai-nilai positif yang berkaitan dengan pencegahan perilaku tawuran dilanjutkan kapada kepemilikan perasaan tentang moral (moral feeling). Menurut Piaget perasaan tentang moral (moral feeling) merupakan sumber energi yang efektif membuat seseorang mempunyai karakter yang konsisten antara pengetahuan tentang moral (moral knowing) dan perbuatan moral (moral action). Dengan kata lain perasaan tentang moral (moral feeling) merupakan fondasi yang kokoh dalam menghubungkan apa yang dipahami anak didik dengan apa yang harus mereka lakukan.
Indikator dari kompetensi perasaan tentang moral (moral feeling) adalah dari kemampuan anak didik dalam berempati kepada orang lain. Mampu merasakan perasaan orang lain dan termotivasi untuk selalu berbuat kebaikan. Metode pembelajaran yang bisa digunakan saat pembelajaran di kelas untuk menumbuhkan perasaan tentang moral (moral feeling) anak didik adalah metode diskusi. Guru dapat mengawalinya dengan menguraikan perilaku tawuran. Baik secara lisan, menunjukkan kliping koran atau melalui tayangan video. Setelah itu siswa diajak untuk merenungkan apa yang terjadi bila mereka atau salah satu orang yang mereka sayangi menjadi salah satu korban tawuran. Bagaimana perasaan orang tua dan keluarga mereka. Bayangkan dengan kemungkinan akibat yang berupa cacat fisik hingga nyawa melayang. Ajak mereka merenungkan apa yang mereka rasakan bila mereka harus masuk penjara, jauh dari orang tua dan orang-orang yang mereka sayangi. Guru dapat menampilkan video atau foto tentang kondisi penjara. Bagaimana dengan nasib masa depan mereka.
Di akhir penjelasan guru meminta siswa untuk mengungkapkan pendapat, perasaan atau pengalaman mereka berkaitan dengan fenomena tawuran pelajar. Menakut-nakuti anak didik bukanlah semangat dari upaya menumbuhkan perasaan tentang moral (moral feeling). Namun lebih kepada meningkatkan kepekaan mereka dalam merasakan perasaan orang lain.
Komponen terakhir dari penanaman komponen karakter baik (component of good character) menurut Lickona adalah perbuatan moral (moral action). Komponen terakhir ini merupakan buah dari kedua komponen sebelumnya. Indikator utama dari perbuatan tentang moral (moral action) adalah nilai-nilai kebaikan telah menjadi kebiasaan (habit) bagi anak didik. Kebiasaan (habit) positif anak didik ini tidak terlepas dari konsistensi sekolah dalam menjalankan pembinaan secara berkelanjutan. Baik itu dalam bentuk fungsi pengawasan dan menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran yang bisa menghindarkan anak didik dari perilaku tawuran.
Kita mengharapkan peristiwa tawuran antar pelajar tidak pernah terjadi lagi di negeri ini. Tanggung jawab pendidikan anak didik tidak hanya terpusat pada sekolah dan orang tua saja. Tapi masyarakat, media dan pemerintah memiliki porsi tanggung jawabnya. Kita mengharapkan masyarakat menjadi model ideal dalam menerapkan hablumminannas.Kita pun mengharapkan media cetak dan elektronik dapat menjadi corong yang konsisten dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Kita pun tidak berhenti berharap kepada pemerintah baik itu legeislatif, eksekutif dan yudikatif untuk menjadi teladan (uswatun hasanah) bagi generasi mudanya.

Monday, 1 October 2012

Tips bikin mc boot Instaler HDPro

Untuk membuat Mc Boot instaler HDPro,terlebih dahulu kita perlu intal FMCB dimana PS2 tersebut akan di pakai HDPro,agar nantinya MC Boot Instaler yang akan kita buat dapat berjalan dengan lancar dan sukses :D :D :D

Cara instal FMCB-nya sama seperti kita menginstal FMCB yang di gunakan untuk menjalankan Opl 0.8,Cuma untuk BOOT.ELF yang kita gunakan merupakan instaler dari HDPro. Untuk prosedur penginstalannya sebagai berikut :t

Selanjutnya untuk Boot Instalernya kita masukkan pada folder INSTALL kemudian ubah namanya menjadi BOOT.ELF harus huruf besar semua,sehingga akan seperti di bawah ini.

Selanjudnya copy file FreeMcBoot tersebut ke dalam flasdisk kemudian tancapkan ke port 1 PS2 yang ingin di instal HDPro, kemudian jalankan ulounche tunggu hingga load ;)

Setelah masuk pada menu ulounche klik pada mass,cari folder FreeMcBoot,buka folder tersebut,tampilan akan seperti di bawah ini.

Selanjudnya klik pada MCBOOT.ELF seperti pada contoh gambar di atas,tunggu beberapa detik kita akan masuk ke menu instal FreeMcBoot seperti di bawah ini.

Selanjutnya tancapkan MMC yang ingin di instal FMCB ke slot 1 PS2,di anjurkan menggunakan MMC kosong,jika sudah ada isinya sebaiknya di format dulu (bisa menggunakan FMCB)

Selanjutnya kita bisa mulai menginstal FMCB ke MMC PS2, gunakan multy version instal,tunggu sampai proses selesai :)

Ok sekarang McBoot Instaler HDPro sudah jadi,selanjutnya kita tinggal memasang chip modbo 4.0 dan perlengkapan HDPro ke PS2 Slim-nya. Untuk diagram jumper dan Boot Instaler HDPro sobat bisa mendapatkannya di sini.

Setelah chip modbo 4.0 dan perlengkapan HDPro sudah terpasang pada PS2 slim, selanjutnya kita tinggal menggunakan Mc Boot Instaler yang baru saja kita buat tadi,cara-nya seperti di bawah ini.

Tancapkan Mc Instaler-nya ke slot 1,kemudian restart PS2,tunggu beberapa detik, setelah masuk di booting HDPro program bootingnya akan memeriksa apakah hardisk sudah terpasang pada HDPro dan chip Modbo 4 yang di ikut sertakan dipaket HDPro sudah terpasang di PS-nya, kemudian  akan ada konfirmasi dilayar untuk instalasi HDLoader seperti di bawah ini.

Jika pemasangan jumper chip modbo 4 dan HDPro-nya di lakukan dengan benar,maka akan ada pesan konfirmasi seperti di bawah ini.

Selanjudnya pilih Continue dengan menekan silang pada stik PS-nya,akan dilanjutkan dengan mengupdate firmware dari modbo 4.0 dalam hal ini HDloadernya akan terinstal di chipnya seperti contoh gambar dibawah ini.

Selama dalam proses Update firmware, pastikan PS2-nya dalam keadaan menyala terus sampai proses update selesai :)

Setelah selesai akan ada pesan  seperti di bawah ini.

Selanjutnya  cabut MMC dari slot PS-nya kemudian reset PS2, tekan :S dan :L pada stik PS2 bersamaan logo metrick muncul dan lepaskan :S,:L bersamaan logo metrick menghilang kita akan menuju ke menu setting chip modbo, kemudian ubah Boot Mode-nya ke Dev2, kemudian tekan :START pada stik PS2 untuk save setting ;)

Reset PS2  tunggu beberapa detik,akan langsung masuk ke booting HDLoader. Kemudian tinggal mengisi game dan memainkan-nya :D

Jika ingin menggunakan harddisk yang lain, HDLoadernya harus kita instal ulang lagi seperti cara di atas, cuma karena disini chipnya sudah diupgrade, kita bisa menggunakan MCBoot Instaler-nya tadi tanpa harus menggunakan FreeMcBoot lagi ;)

Alangkah baiknya sobat menyimpan MCBoot Instaler yang tadi di gunakan untuk instal HDPro atau sobat bisa mengcopy datanya saja dari MMC untuk di simpan ke dalam flasdisk menggunakan bantuan ulounche, agar nantinya kalau HDPro hank, sobat bisa mengunakan MC Instaler yang tadi sobat simpan ;)

Cara di atas sudah saya coba di beberapa PS2 Slim seri 7xxxx dan berhasil.

Selesai.

Wednesday, 26 September 2012

Peran Guru Dalam Mencegah Tawuran Pelajar

Oleh : Lukman Ajis
          Guru Madrasah Aliyah Negeri Jampangan Tengah Sukabumi
          Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Forum Guru
          Rabu 26 September 2012 

Alangkah berdukanya kita, kalau masalah tawuran di kalangan pelajar masih marak dan menjadi konsumsi pemberitaan dengan rating tinggi di negeri tercinta ini. Seolah pelajar kita sulit dididik untuk mengendalikan diri. Peran guru pun seolah dalam tanda Tanya besar. Institusi sekolah seakan sia-sia dan tak sanggup membawa pelajar kea lam pencerahan akal budi. Padahal, mereka sejatinya �berwisata� dalam ilmu pengetahuan, berselancar mengaplikasikan nilai-nilai, norma edukatif, agais, dan kemanusiaan.
Akar permasalahan yang menyebabkan remaja rentan tersulut amarahnya dan meluapkanna dengan tawuran dan kekerasan, karena masa usia mereka yang menghadapi problem. Antara krisis eksistensi dan tuntutan pembelajaran formal yang banyak menguras energi. Parapelajar mengalami prolem eksistensi diri yang perlu dibina. Narsisme yang menghinggapi mereka melahirkan perbuatan anarkis di jalanan. Narsisme itu yang terbina dengan baik. Pelajar-pelajar cenderung ingin eksis termasuk di dunia pemberitaan. Merasa gagah, merasa ingin menang atas kelompok lain, adalah hal-hal yang kemudia memicu mereka untuk melakukan aksi apa saja. pelajar kita cenderung jadi liar dan tak terkendali.
Bisa jadi, pelajar yang mengalami krisis eksistensi akibat tekanan kegiatan pembelajaran di kelas yang menuntutnya untuk ekstra berpikir. Dari pagi hingga siang bahkan sore, mereka terus memaksakan diri dan terus dijejali kegiatan kognitif. Mereka seakan terpenjara di ruang kelas dan kemudian merasa bebas setelah keluar dan mencari eksistensi diri di luar lingkungan sekolah melalui tawuran salah satunya.
Harus kita evaluasi juga bahwa penanaman nilai-nilai dan ilmu pengetahuan bukan kegiatan yang mesti dipaksakan atau dijejalkan. Semestinya bagaimana penanaman nilai-nilai dan norma-norma itu dalam konteks pembelajaran tumbuh berdasarkan kesadaran yang timbul dari pelajar sendiri.
Di sinilah peran guru sebagai pembimbing benar-benar dipertaruhkan. Guru sebagai pembuka jalan menuju cahaya hari depan, bukan tukang paksa. Guru harus membukakan jalan pencerahan kepada mereka. Sudah saatnya guru menunaikan tugasnya. Kewajiban guru tidak gugur setelah mengajar. Guru harus menjadi contoh yang baik, dari segi akhlak ataupun norma-norma kemasyarakatan.
Guru dalam konteks pembelajaran wajib berinteraksi secara batiniah dengan siswanya. Guru dituntuttahu permasalahan psikologis dan problem setiap siswanya, sehingga, sehingga ketika ada siswa yang malas-malasan belajar di kelas pada saat guru menyampaikan materi, guru harus responsive mencari tahu akar permasalahannya. Apakah ia punya problem dalam keluarganya? Halitu bukan semata tugas guru BK, tetapi tugas semua guru.
Apa yang diungkapkan Bung Karno, pemimpin besar revolusi dalam buku Di Bawah Bendara Revolusi ada baiknya dapat kita renungkan bersama. Bung Karno berkata, �Tiap-tiap perguruan, di negeri mana saja dan pada bangsa mana saja, mempunyai guru yang baik dan mempunyai guru yang kurang baik. Mempunyai guru yang segala-galanya seperti mendapat ilham ilahi buat menjadi guru, dan mempunyai guru yang kurang baik sebenarnya lebih baik menjjadi penjaga took atau juru tulis atau belasting-ambtenaarsaja.