Saturday, 7 April 2012

Menyikapi Keunikan Sang genius

Oleh : Septiardi Prasetyo
          Guru di MI At-Taufiq, Kota Bandung
          Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Forum Guru
          Koran Pikiran Rakyat, 8 Juni 2009


Setiap siswa memiliki potensi dan kompetensi yang unik. Kondisi ini tidak terlepas dari begitu beragamnya factor lingkungan yang berinteraksi dengan siswa. Keberagaman factor lingkungan sekitar siswa berhubungan erat dengan tidak homogennya latar belakang budaya, adatistiadat, norma dan nilai-nilai yang berlaku. Begitu pun dengan semakin kuatnya arus globalisasi bidang informasi dan telekomunikasi, juga memperluas jangkauan interaksi para siswa.
Bagi guru, keunikan karakter yang dimiliki siswa bias menjadi factor penghambat saat kegiatan belajar-mengajar (KBM). Sebab, setiap siswa memerlukan perhatian dan penanganan yang berbeda. Halini memberikan tantangan tersendiri bagi guru yang menginginkan siswanya tetap unggul dalam setiap keunikan karakter.
Bila menyimak sejarah kehidupan seorang ilmuwan paling genius abad ke-20, Albert Einstein, kita akan menemukanfakta menarik bahwa ketika masih kecil, ia diketahui memiliki keterlambatan perkembangan secara emosional. Dia dikenal sebagai anak pendiam, pemalu, dan malas belajar. Walaupun memiliki hasil belajar yang buruk di sebagian besar mata pelajaran sekolahnya, tetapi ia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam pelajaran matematika.
Ketika ituguru-gurunya menyadari potensi cemerlang Einstein. Mereka menodorongnya untuk lebih mendalami kemampuan matematikanya dan tidak memaksakan diri untuk memiliki pencapaian yang sama untuk mata pelajaran lainnya. Akhirnya, dengan bermodalkan kemampuan matematika yangspektakuler, para guru Einstein memperjuangkan mati-matian supaya Einstein dapat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Bila saat itu Einstein dipaksa untuk memiliki kompetensi dasar yang merata untuk seluruh mata pelajaran sekolahnya maka adakemungkinan ia tidak akan pernah menjadi ilmuwan seperti sekarang ini.
Sepenggal kisah Einstein di atas memberikan beberapa pelajaran yang sangat penting bagi kita (guru). Pertama, setiap siswa memiliki karakter yangunik dalam al potensi dan kemampuan belajarnya di sekolah. Sebab, setiap karakter yang terdapat pada seseorang merupakan �sidik jari psikologis� yang menjadi cirri khas dan pembeda dengan manusia lainnya. Tugas kita adalah menemukan keungulan yang dimiliki para siswa, kemudian megngembangkannya supaya menjadi karakter yang dominan.
Kedua, guru berperan sebagai motivator bagi para siswanya. Sebagai motivator, guru dituntut mampu menangkap persoalan-persoalan belajar yang dihadapi siswa. Dengan mengetahui dan memahami letak permasalahan yang dihadapi siswa, diharapkan guru dapat memberikan solusi dan motivasi yang tepat bagi mereka. Dalam sejarah kehidupan Einstein, gurunya telah berhasil mengidentifikasikan kesulitan belajar Einstein. Namun, guru-gurunya tidak terburu-buru mengecap Einstein sebagai guru yang bodoh dan terbelakang. Mereka menjadikan matematika sebagai solusi bagi permasalahan belajar Einstein.
Ketiga, guru sebagai fasilitator. Seorang guru dituntut mampu menjembatani siswa dengan cita-citanya. Atinya, guru dan sekolah dituntut proaktif dalam mengantarkan siswa ke jenjang pendidikan selanjutnya sesuai dengan potensi dan kompetensinya.
Setiap siswa diciptakan Allah SWT dengan segenap keunikankarakter. Tugas setiap guru adalah menemukan letak kesempurnaan karakter siswanya, kemudian mengembangkan dan mengarahkannya supaya bias menjadi solusi bagi kehidupan.

Science for All di Sekolah

Oleh : Septiardi Prasetyo
          Guru di MI At-Taufiq, Kota Bandung
          Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Forum Guru
          Koran Pikiran Rakyat, Selasa 27 Januari 2009

�Science for all� merupakan sebutan bagi ilmu pengetahuan alam yang bersifat praktis, aplikatif, dan dapat dipelajari oleh semua tingkatan umur. Bersifat praktis, memplejari science for all tidak memerlukan teori-teori atau perhitungan yang rumit. Sifat yang paling menonjol dari science for all adalah aplikatif sederhana. Untuk mempelajari science for all tidak diperlukan peralatan laboratorium yang canggih atau mahal. Karena objek yang dipelajari selalu berhubungan dengan fenomena alam yang berada di sekitar siswa.
Science for all bukanlah suatu cabang ilmu pengetahuan, tetapi upaya untuk lebih mendekatkan kehidupan kepadailmu pengetahuan alam. Sebagai pihak yang paling tepat untuk melakukannya adalah sekolah. Di sekolah, siswa mempelajari berbagai disiplin ilmu, termasuk ilmu pengetahuan alam. Amun kecenderungan yang sering terjadi, ilmu pengetahuan alam yang dipelajari hanya sebatas pada hafalan teori dan perhitungan angka-angka yang sulit dimaknai siswa. Dengan demikian, esensi dari mata pelajaran yangdipelajari siswa tidak pernah menyentuh, bahkan tidak bias dijadikan solusi bagi kehidupan mereka.
Science for all dapat berperan sebagai suplemen bagi pelajaran ilmu pengetahuan Alam. Layaknya suplemen, science for all bukanlah menu utama dalam pembelajaran, tetap bias digunakan untuk memperkuat aspek kognitif yang telah dimiliki siswa dan memunculkan indicator-indikator aspek afektif dan psikomotor yang diharapkan muncul pada siswa. Bagi guru, kedua aspek terakhir ini lebih sulit untuk dicapai dan dievaluasi dibandingkan dengan aspek kognitif. Dengan demikian, science for all bias menjadi alternative solusi dalam menjawab tantangan kurikulum.
Seperti diketahui, contoh-contoh kasus yagn disajikan pada buku ilmu pengetahuan alam masih minim dalam membahas permasalahan yang terdapat di lingkungan sekitar siswa. Contoh kasus hanya seputar peragaan alat-alat praktikum yang kemungkinan tidak semua sekolah memilikinya. Walaupun tersedia di sekolah, terkadang siswa hanya bias mengamatinya. Siswa tidak dilibatkan langsung dalam percobaan dengan alas an ketersediaan alat peraga yang sangat terbatas atau mahal. Tentu hal ini menjadi keprihatinan kita bersama.
Sudah waktunya guru mencari langkah-langkah alternative yang bersifat praktis, tetapi efisien untuk lebih mempopulerkan ilmu pengetahuan alam dalam konteks lingkungan sekitar siswa.
Science for all dapat menjadi jalan pintas yang murah dan mudah dalam memberikan solusi. Semua bahan yang diperlukan untuk membuat produk science for all merupakan hasil rekayasa dari bahan-bahan rumahan yang mudah diperoleh. Dari produk tersebut, siswa dapat mendemonstrasikan sebuah fenomena alam dari hasil kreasi mereka sendiri. Tentu hal ini sangat membeantu guru dalam mencari indicator-indikator aspek psikomotor yang diharapkan mucul pada diri siswa.
Untuk mempelajari science for all, siswa tidak perlu pergi ke laboratorium atau museum. Karen, fenomenan yang mereka amati tidak pernah lepas dari lingkungan sekitarnya. Siswa diarahkan pada pengertian bahwa lingkungan sekitar mereka�merupakan sebuah laboratorium raksasa, suatu tempat berlangsungnya elemen-elemen alam semesta yang setiap hari dansetiap saat selalu dapat diamati dan dijadikan sumber pembelajaran bagi mereka.
Secara tidak sadar, siswatelah mengisi hari-hari mereka dengan pembelajaran melalui science for all. Karena mereka telah mengamati, mempelajari, dan menyimpulakn semua fenomena yang berada di sekitarnya sebagai bagian dari hidup mereka.
Science for all tidak akan mengubah kurikulum yang telah ada, tetapi sebaliknya dapat digunakan sebagai batu pijakan untuk mencapai tujuan dari kurikulum itu. Begitu pun, guru dituntut lebih peka dan kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul di sekitar siswa. Karena gurulah yang menjadi motor penggerak di sekolah dalam mengarahkansiswanya untuk lebih cerdas dalam menangkap fenomena-fenomena alam di sekitar mereka.

Memotivasi Siswa Sejak Awal Masuk Sekolah

Oleh : Septiardi Prasetyo
          Guru di MI At-Taufiq, Kota bandung
          Artikel ini pernah dimuat di rubrik Forum Guru, Koran Pikiran Rakyat
          Jumat 16 Januari 2009

Ketika liburan sekolah berakhir, siswa akan menanggapinya secara beragam. Ada yang gelisah karena harus berpisah dengan nenek tercinta di kampung halaman. Sebagian lagi merasa kecewa dengan berakhirnyakesempatanuntuk bias bermain sepanjang waktu. Tidak sedikit pula siswa yang merasa tertekan akan baying-bayang setumpuk aktivitas dan pekerjaan yang akan mereka lalui. Bila guru harus menghadapi potret-potret suram seperti ini saat hari pertama masuk kelas, pembelajaran untuk memberikan pencerahan bagi para siswa akan sulit dilakukan.
Beragamnya sikap siswa sangat berkaitan erat dengan pola jenis, dan waktu aktivitas yang mereka lakukan saat liburan sekolah. Kecenderungan yang sering terjadi, siswa tidak memiliki pola aktivitas yang baku dalam mengisi liburan sekolah. Sehingga, siswa dengan leluasa bangun siang, tidak mandi pagi apalagi gosok gigi, tidak belajar di Rumah dan beragam aktivitas tidak teratur lainnya.
Begitu pun aktivitas siswa hanya terpaku ada satu jenis saja, bermain! Yang lebih parah lagi, aktivitas monoton ini dilakukan sepanjang waktu. Hal ini menjadi keprihatinan dan harus menjadi perhatian kita bersama. Kita sepakat bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Dunia penuh dengan aktivitas keceriaan, kegembiraan dan perasaan menyenangkan lainnya. Namun, perasaan-perasaan seperti itu tidak hanya diperoleh saat siswa bermain saja tetapi bias juga diperoleh saat siswa bermain saja tetapi bias juga diperoleh saat mereka belajar.
Permasalahannya bila dunia anak yang penuh kebahagiaan itu diperoleh saat bermain. Tentu sangat disayangkan bila pemahaman ini yang dipakai untuk mengisi liburan sekolah. Akibatnya siswa akan merasa bersedih setiap berpisah dengan liburannya. Mereka merasa terbebani dengan baying-bayang pola aktivitas sekolah yang akan banyak menyitas waktu bermain mereka. Sehingga, hari pertama masuk sekolah bisa menjadi momentum paling kritis bagi siswa.
Oleh karena itu, ketika masuk sekolah, guru harus bias meyakinkan siswanya bahwa pembelajaran pada semester ini akan lebih menarik, lebih menyenangkan dan penuh dengan tantangan dibandingkan semester sebelumnya. Tunjukkan pada mereka bahwa belajar di sekolah tidak kalah menyenangkan dengan liburan sekolah. Ciptakan atmosfer penuh keceriaan dan kebahagiaan saat di dalam kelas. Lakukanlah dengan daya kreativitas dan imajinasi masing-masing guru untuk melakukannya. Sejenak, buatlah para siswa melupakan manisnya musim liburan untu menyongsong musim sekolah penuh keceriaan.
Studying is fun harus menjadi tema dalam pembelajaran di hari pertama. Pancinglah antusiasme siswa untuk belajar lebih semngan. Guru dapat memulainya dengan cara mendeskripsikan secara garis besar topic-topik pembelajaran dan serangkaian aktivitas yang menarik dan menyenangkan bagi siswa. Intinya, yakinlah para siswa bahwa belajar di sekolah jauh dari sifar membosankan, menyulitkan, melelahkan dan kata-kata negative lainnya. Tunjukkanlah pada para siswa bahwa belajar di sekolah sama dengan aktivitas yang menyenangkan, menggembirakan, penuh dengan tantangan dan perasaan positif lainnya yang dapat mengangkat semangat mereka dalam belajar.
Guru dapat menggunakan hari pertamanya untuk memotivasi siswa dalam memacu prestasi belajar. Berilah pengertian pada mereka bahwa pada hari ini, mereka semua telah mengantongi nilai sepuluh di buku rapor masing-masing. Yang harus mereka lakukan adalah mempertahankannya dari awal masuk sekolah hingga pengujung semester. Yakinkan mereka bahwa mereka memang mampu dan layak untuk mendapatkannya.
Motivasi yangdiberikan pada awal masa sekolah bias menjadi hal yang sangan menentukan bagi siswa. Karena pada setiap pergantian semester, siswa akan berhadapan dengan tantangan dan pengalaman baru. Siswa yang termotivasi akan mampu menjawab tantangan sebagai kesempatan untuk melakukan perubahan kea rah yang lebih baik.

Friday, 6 April 2012

Menyikapi Liburan Sekolah


Oleh : Septiardi Prasetyo
          Guru di MI At-Taufiq, Kota Bandung
          Artikel ini pernah dimuat di Koran Pikiran Rakyat, jumat 2 Januari 2009

Ada kekhawatiran dari sebagian guru setiap akan memasuki musim liburan. Merekamencemaskan siswanya akan memasknai liburan sekolah sebagai libur segalanya. Libur dari bangun pagi, libur mengerjakan pekerjaan Rumah (PR), libur belajar di Rumah dan libur dari segala rutinitas pembelajaran lainnya. Sehingga, hari liburan sekolah diwarnai dengan bangun tidur kesiangan, bermain sepanjang waktu dan aktivitas harian yang tidak menentu. Bila ini makna dari liburan sekolah, bagi guru dan orang tua, ini adalah cerita horor yangakan selalu berulang setiap liburansemester.
Kekhawatiran guru itu sangat beralasan, karena setiapsiswa berada pada lingkungan keluarga yang tidak homogen. Ada sebagian orang tua siswa yang sangat memperhatikan jawal kegiatan anaknya saat liburan sekolah. Mulai dari bangun pagi hingga tdur kembali di malam hari. Ada pula orang tua yang memanfaatkan musim liburan dengan mengikutkan anak-anaknya dalam kegiatan pesantren kilat untuk memperdalam ilmu agama. Dan tidak sedikit pula membawa putra dan ptrinya menghabiskan masa liburan di Rumah nenek.
Apa pun aktivitas siswa saat liburan sekolah, diharapkan selalu menjadi perhatian orangtua. Ketika di sekolah, siswa selalu diawasi oleh para guru dan teman-temannya. Saat di luar sekolah, orang tua dan lingkunganlah yang menggantikan peran guru dalam mengawasi anak-anaknya.
Upayakan pola aktivitas siswa saat liburan tidak jauh berbeda dengan pola aktivitas saat mereka bersekolah. Bila setiap hari, para siswa harus bangun pagi, mandi, sarapan kemudian berangkat sekolah. Maka saat musim liburan sekolah, kebiasaan positif tersenut harus dilanjutkan. Orang tua dapat mengganti rutinitas belajar di sekolah dengan aktivitas pembelajaran lainnya.
Liburan juga merupakan saat yang tepat bagiorang tua untuk menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kerja sama kepada putra-putrinya. Misalnya setiap hari, anak dibiasakan disiplin bangun pagi. Begitu pun setiap anak harus bertanggung jawab dalam membereskan tempat tidurnya. Dan tugas tersebut dikerjakan orang tua dan anak bersama-sama supaya pekerjaan lebih ringan dan cepat selesai.
Untuk mengupayakan aktivitas siswa selalu dalam koridor yang benar saat mengisi waktu liburan sekolah, maka para orang tuaharus menghindarkan putra dan putrinya bermainsepanjang waktu. Bermain adalah aktivitas positif yang menyediakan kesempatan bagi anak untuk berinteraksi dan bereksresi bersama teman-teman sebayanya. Dan orang tua bertugas untuk memilah aktivitas bermain yang benar-benar positif bagi anak-anaknya. Dan memberi jadwal kapan melakukan aktivitas lainnya. Sehingga aktivitasanak tidak hanya terpaku pada kegiatan bermain saja.
Anak hendaknya selalu disiplin dalam mengelola waktu. Salah satu kunci sukses untuk mengisi liburan sekolah ada;ah pengelolaan waktu. Orang tua dituntut untuk bisa memilihkan waktu yang tepat untuk setiap aktivitas putra dan putrinya. Dan orang tua dapat meniru pola aktivitas harian ketika anak bersekolah.
Menghindarkan anak dari aktivitas yang sia-sia dan membuang waktu adalah pekerjaan rumah yang cukup yang cukup menantang bagi setiap orang tua. Karena orang tua harus bias memberi pengganti bagi aktivitas yang tidak berguna dengan aktivitas yang lebih positif.
Liburan sekolah yang berlangsung beberapa minggu ini, harus mampu memberikan suasana segar yang bias memberikan motivasi kepada anak untuk lebih memacu prestasi belajarnya di semester berikutnya. Bukan sebaliknya, setelah liburanberakhir siswa merasa dibebani oleh baying-bayang tentang ksibukan dan rutinitas harian di sekolah yang harus mereka lalui.

Wednesday, 4 April 2012

Implementasi VBL Bagi Pembelajaran Fisika

Penulis : Septiardi Prasetyo
 Guru di Madrasah Ibtidaiyah At-Taufiq, Kota Bandung 
Video Based Laboratory (VBL) merupakan salah satu media pembelajaran berbentuk software edukasi berbasis analisis video yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas. Khususnya untuk mata pelajaran fisika pada topik pembelajaran kinematika dan spektrum cahaya. Salah satu nama software berbasis VBL adalah �Tracker.� Software ini bersifat freeware atau open sourceyang dapat di-download secara bebas dan gratis. Hal ini akan sangat memudahkan siapa saja yang ingin memanfaatkan software tersebut.
Program �Tracker� dapat digunakan untuk menganalis berbagai video tentang fenomena alam yang berkaitan dengan topik kinematika dan spektrum cahaya. Dari analisis video tersebut kita akan memperoleh sekumpulan data yang tersaji dalam bentuk tabel dan grafik. Misalkan bila kita melakukan percobaan tentang gerak jatuh bebas, di mana sebuah bola tenis dijatuhkan pada suatu ketinggian tertentu. Maka kita akan memperoleh data tentang ketinggian bola tenis tersebut saat pertama kali dilepaskan hingga saat menyentuh tanah. Begitu pun kita dapat memperoleh grafik kecepatan bola tenis tersebut dalam dalam setiap selang waktu. Data-data tersebut merupakan hasil analisis dari program �Tracker.� Program ini pun dapat menampilkan grafik yang berkenaan dengan data di dalam tabel tadi. Dari tabel tersebut kita bisa menganalisis karakteristik kinematika dari bola tenis yang sedang jatuh bebas. Terakhir, program �Tracker� dapat menampilkan bentuk persamaan dari bola tenis tersebut.
Kumpulan data dan analisisnya akan dimunculkan secara otomatis oleh �Tracker.� Oleh sebab itu, bila guru hendak menerapkan software ini pada pembelajaran di kelas. Diperlukan strategi pembelajaran yang terencana dan terukur dengan baik. Karena jangan sampai siswa memperoleh semua pengetahuannya secara instan melalui penerapan softwareini. Tetapi jadikanlah setiap data dan analisis yang dihasilkan �Tracker� sebagai acuan bagi para siswa. Sehingga pembelajaran yang menerapkan �Tracker� tidak terpaku pada aktivitas memperhatikan layar monitor atau screen saja. Tetapi siswa dituntut aktif dalam mengolah data dan memecahkan masalah yang ditampilkan di setiap video melalui kegiatan diskusi kelompok atau tanya jawab antara guru dan siswa.
Seperti dikemukakan di atas, VBL bukanlah suatu metode atau model pembelajaran, tetapi suatu media aplikasi berbentuk software edukasi yang dapat diterapkan dalam KBM di kelas. Penerapan VBL dalam pembelajaran fisika memiliki beberapa manfaat sebagai berikut:
Pertama, sebagai alternatif solusi bagi terbatasnya peralatan laboratorium di sekolah. Seperti kita maklumi bersama bahwa ketersediaan peralatan praktikum di setiap sekolah masih belum merata. Andaikan alat praktikum tersebut sudah tersedia, biasanya jumlahnya masih sangat terbatas. Dengan menerapkan VBL, cukup dengan satu unit komputer dan sebuah proyektor LCD di setiap kelas. Maka seluruh siswa dapat mengamati, mempelajari dan menganalisis setiap fenomena secara bersamaan.
Kedua, menghemat waktu. Dengan menerapkan VBL, siswa tidak perlu lagi pergi ke laboratorium, mempersiapkan dan mengoperasikan berbagai peralatan praktikum yang sering kali menyita terlalu banyak waktu. Hal ini dikhawatirkan akan menurunkan efektivitas pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, tanpa perlu ke luar kelas, para siswa sudah dapat melakukan berbagai aktivitas pengamatan, mengumpulkan data, menganalisis data, menyimpulkan dan mempresentasikannya. Hal ini tentu menghemat waktu percobaan.
Ketiga, meningkatkan motivasi belajar fisika di kelas. Setiap video yang menjadi bahan pembelajaran fisika diupayakan menggunakan video yang berhubungan langsung dengan kehidupan siswa. Apakah fenomena tersebut pernah dialami siswa atau hanya sebatas mereka pernah melihatnya. Diharapkan dengan menggunakan video yang menampilkan fenomena yang biasa terjadi di lingkungan sekitar siswa, akan muncul kesadaran pada diri mereka bahwa setiap konsep fisika yang mereka pelajari tidak pernah jauh dari kehidupan mereka. Hal ini secara tidak langsung akan meningkatkan motivasi mereka saat belajar fisika di kelas.
Keempat, membiasakan siswa dalam melakukan kegiatan ilmiah di rumah. Ketika siswa belajar di sekolah, mereka akan memperoleh pembiasaan untuk berfikir ilmiah. Melalui serangkaian pembelajaran di kelas dan laboratorium. Tetapi ketika mereka pulang ke rumah, aktivitas belajar mereka hanya terpaku pada aktivitas membaca buku dan mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) yang ditugaskan guru. Dengan memperkenalkan software �Tracker� para siswa yang di rumahnya telah tersedia fasilitas komputer dapat mencobanya sendiri. Mulai dari kegiatan pengamatan, mengumpulkan data, menganalisis hingga menyimpulkannya.
Perkembangan teknologi digital saat ini telah menyentuh berbagai aspek kehidupan. Begitupun dengan dunia pendidikan kita, sudah saatnya maju ke depan terlebih mengejar ketertinggalan. Dengan cara mendigitalisasi aktivitas pembelajaran dan secara konsisten mengupayakan peningkatkan mutu pendidikan.

Berkenalan dengan VBL

Penulis : Septiardi Prasetyo
             Guru di Madrasah Ibtidaiyah At-Taufiq, Kota Bandung

Video Based Laboratory (VBL) merupakan media pembelajaran berbasis analisa objek yang terdapat pada sebuah video. Di mana hasil dari analisa objek tersebut akan diperoleh sekumpulan data yang tersaji dalam bentuk tabel dan grafik. Interpretasi dari data-data itulah yang dapat digunakan oleh guru sebagai sumber pemahaman siswa di kelas. Tidak setiap video yang ditampilkan saat pembelajaran merupakan VBL. Karena VBL berkaitan erat dengan interpretasi dari hasil analisa data dari sebuah video.
Untuk dapat menganalisa suatu objek dalam sebuah video diperlukan suatu software atau perangkat lunak. Khusus untuk mata pelajaran fisika, perangkat lunak yang bisa digunakan bernama Tracker. Tracker merupakan perangkat lunak yang memiliki kemampuan menganalisa suatu objek yang terekam pada sebuah video. Perangkat lunak ini dibuat melalui Open Source Physics (OSP) pada platform Java. Sehingga untuk menggunakan program Tracker, terlebih dahulu komputer atau laptop anda harus sudah terinstal bahasa pemrograman Java.
Software ini bisa digunakan pada aktivitas laboratorium fisika dasar di Sekolah Menengah hingga Perguruan Tinggi. Karena di dalam program Tracker terdapat fitur-fitur yang cukup lengkap untuk pembelajaran di sekolah. Seperti: fitur untuk melacak posisi objek yang terekam video tiap satuan waktu, menentukan kecepatan dan percepatannya dalam bentuk tampilan overlaysmaupun grafik, special effect filters, multiple reference frame, calibration point, profil garis untuk menganalisis hasil spektroskopi dan pola interferensi, dan model dinamika partikel.
 Software ini dapat digunakan untuk topik pembelajaran kinematika partikel (Gerak Lurus Beraturan, Gerak Lurus Berubah Beraturan, Gerak parabola), Gerak harmonik sederhana dan pola interferensi. Tetapi software ini tidak bisa digunakan pada topik pembelajaran fisika yang berkaitan dengan konsep suhu atau temperatur, bunyi, fisika modern dan beberapa konsep lainnya. Walaupun begitu, software ini merupakan media pembelajaran yang sangat potensial untuk mengembangkan kemampuan interpretasi data berbentuk tabel dan grafik para siswa Sekolah Menengah.
Program Tracker termasuk perangkat lunak open source alias freeware atau gratisan. Sehingga kita dapat mengunduh program ini di internet secara bebas. Caranya gampang. Cukup kunjungi search engine Google kemudian ketikkan keywords �Tracker Physic.� Lalu kita akan memperoleh daftarhasil pencarian, pilih download tracker.exe. Di Google pun kita dapat memperoleh video tutorial tentang tata cara menggunakan tracker untuk pemula. Berikut sample-samplevideo yang bisa diolah menggunakan Tracker.
Untuk menggunakan tracker, diperlukan beberapa software pendukung seperti: Java SE Development Kit (JDK) Version 6.0, Quicktime, Total Video Converter dan K-lite Megacodec. Karena program tracker beroperasi menggunakan bahasa pemrograman Java. Maka program Java SE Development Kit (JDK) Version 6.0 harus diinstal. Program Quicktime digunakan untuk membuka video berformat mov. Penting di ketahui bahwa format video yang bisa dianalisa program tracker hanyalah video berformat mov. Sehingga program Quicktime perlu dimiliki.
Sedangkan program K-lite Megacodec berguna untuk membuka berbagai format video, seperti: mpg, mpeg, AVI, mp4, WMV, mov dan lain-lain. Dan supaya video-video tersebut bisa dianalisa menggunakan Tracker maka video-video tersebut harus dikonvert terlebih dahulu menjadi format mov. Untuk melakukannya kita bisa menggunakan software Total Video Converter. Sehingga format video apapun dapat diubah menjadi format video sesuai dengan kebutuhan kita.
Pada prinsipnya setiap video berformat mov dapat dianalisa oleh Tracker. Baik itu video buatan sendiri maupun video hasil download dari youtube. Sebagai tips untuk memudahkan saat proses analisa, pilihlah video yang diambil menggunakan kamera beresolusi baik. Dari pengalaman, kamera beresolusi 10 megapixel sudah cukup untuk menghasilkan video yang bagus. Tidak lupa untuk mengambil gambar di tempat yang memiliki pencahayaan yang cukup. Gunakan warna objek yang akan diteliti sekontras mungkin dengan warna latar belakang. Misal bila warna warna objeknya putih maka warna latar belakangnya berwarna hitam.
Video Based Laboratory merupakan terobosan baru yang positif untuk dijadikan sebagai salah satu media elektronik bagi pembelajaran di kelas. Karena media ini dapat lebih membiasakan siswa dalam melakukan kegiatan ilmiah secara digital. Selain itu untuk lebih mendekatkan siswa dengan berbagai fenomena yang terjadi di sekitarnya. Sehingga terjalin kekontinuan antara konsep fisika yang dipelajari di sekolah dengan lingkungan sehari-hari siswa.

Model Pembelajaran Konstruktivisme Bagi Siswa

Penulis : Septiardi Prasetyo
             Guru di Madrasah Ibtidaiyah At-Taufiq, Kota Bandung

Saat ini penetrasi informasi dari dunia luar begitu dahsyat. Intensitasnya belum pernah terjadi diabad-abad sebelumnya. Bagi siswa, mengakses informasi bukan lagi kendala yang berarti. Kini memiliki barang teknologi informasi tidak semahal dan sesulit dulu. Mulai dari radio, televisi, telefon, hingga internet telah memberikan andil yang sangat signifikan dalam mempercepat penyebaran informasi pada siswa.
Ketika pemerintah belum berhasil merumuskan suatu kebijakan konsisten dan tegas tentang bahaya globalisasi informasi ini, maka dunia pendidikan bisa dijadikan �benteng�terdepan untuk membendung dan mengajarkan kemampuan kepada siswa dalam menyaring informasi.
Kegiatan belajar mengajar(KBM) di kelas dapat dijadikan momentum untuk merealisasikannya. Saat KBM berlangsung, siswa diajak untuk mengungkapkan pengetahuan, pengalaman, dan pengamatan fenomena dilingkungannya. Kemudian guru memberikan demonstrasi, ilustrasi, atau percobaan untuk menguji kebenaran dari pemahaman awal siswanya. Setelah itu, siswa diajak membandingkan pemahaman mereka dengan demonstrasi, ilustrasi, atau percobaan yang telah disampaikan guru.
Pada proses ini, siswa akan terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama, mereka yang merasa pemahamannya sesuai dengan yang dilakukan guru. Sehigga semakin kuat dan mendalamlah pemahamannya. Kelompok kedua,mereka yang memiliki pemahaman yang berbeda dengan fakta yang telah ditunjukan guru. Maka pada siswa kelompok kedua ini akan mucul konflik kognitif.
Konflik kognitif ini dapat dijadikan kesempatan bagi guru untuk mengajak siswanya berdiskusi guna mencari pemecahan masalah. Pada saat diskusi, peran guru adalah sebagai fasilitator, motivator, dan navigator bagi para siswanya. pada saat KBM, guru menyediakan waktu khusus untuk kegiatan diskusi. Kemudian guru menunjukan hal-hal yang telah menjadi perbedaan dalam memahami suatu materi untuk direspon siswanya melalui diskusi. Saat diskusi berlangsung, guru dapat mengarahkan siswanya menuju pemahaman yang benar.
Dalam KBM di atas, guru telah berhasil menggali tiga aspek fundamental yang dimiliki siswa. Aspek kognitif (pengetahuan), aspek afektif (sikap), dan aspek psikomotor (keterampilan). Pembelajaran di atas merupakan aplikasi dari model pembelajaran Konstruktivisme(MPK). Model pembelajaran ini sangat cocok bagi siswa yang setiap hari dihujani beragam informasi dari dunia sekitarnya.
MPK pertama kali dikemukakan oleh Novick. Ia beranggapan bahwa setiap siswa masuk ke dalam kelas, mereka datang tidak dengan kepala yang kosong. Artinya, siswa memiliki pengetahuan awal ketika hendak mempelajari materi pelajaran yang baru. Pengetahuan awal ini, siswa peroleh dari materi pelajaran yang lalu, informasi dari lingkungan, pengalaman sehari-hari, dan sebagainya. Pengetahuan awal ini bisa dijadikan modal bagi guru untuk mengetahui sejauh mana siswa memiliki pengetahuan yang benar, pengetahuan yang sesuai dengan rumusan para ilmuwan.
Dalam MPK tipe Novick ini, terdapat tiga fase yang menjadi cirri khasnya. Pertama, mengungkap konsepsi awal. Kedua, menciptakan konflik kognitif. Ketiga, mengupayakan terjadinya akomodasi kognitif. Ketiga fase tersebut harus diselesaikan dalam satu kali jam pelajaran. Oleh sebab itu, guru dituntut proaktif untuk mengarah siswanya supaya ketiga fase ini dapat berjalan dengan lancar.
Fase pertama, mengungkap konsepsi awal. Pada fase ini guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menggali pengetahuan awal siswa. Pertanyaan ini dapat berhubungan dengan materi sebelumnya atau berhubungan dengan pengalaman siswa sehari-hari. Pertanyaan ini bisa dilakukan secara lisan maupun tulisan. Setelah guru mengetahui pengetahuan awal siswa, maka guru mengarahkan siswanya menuju fase berikutnya.
Fase kedua, menciptakan konflik kognitif. Pada fase ini guru memberikan beberapa demonstasi atau percobaan untuk membuktikan kebenaran pengetahuan awal yang dimiliki siswa. Bagi siswa yang memiliki pengetahuan awal yang benar, maka semakin bertambahlah pemahaman tentang matri yang sedang dipelajari. Bila pembuktian berbeda dangan pengetahuan awal siswa, maka ada dua kemungkinan. Siswa memahami konsep baru sesuai pembuktian atau terjadi konflik kognitif. Konflik kognitif terjadi karena munculnya perbedan antara pengetahuan awal dengan demonstrasi atau percobaan yang dilakukan. Oleh sebab itu saatnya masuk fase ketiga.
Fase ketiga,mengupayakan terjadinya akomodasi kognitif. Pada fase ini, siswa diajak berdiskusi. Pada tahap ini, guru mengarahkan siswa kepemahaman yang benar. Tujuan dari keseluruhan proses ini bisa melatih siswa bersikap kritis terhadap informasi-informasi yang beredar di sekitarnya.