Tuesday, 15 July 2008

Kepribadian

Istilah kepribadian merupakan terjemahan dari Bahasa Inggirs �personality�. Sedangkan istilah personality secara etimologis berasal dari Bahasa latin �person� (kedok) dan �personare� (menembus). Persona biasanya dipakai oleh para pemain sandiwara pada zaman kuno untuk memerankan suatu bentuk tingkah laku dan karakter pribadi tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan personare adalah bahwa para pemain sandiwara itu dengan melalui kedoknya berusaha menembus keluar untuk mengekspresikan suatu bentuk gambaran manusia tertentu. Misalnya: seorang pendiam, pemurung, periang, peramah, pemarah dan sebagainya. Jadi, persona itu bukan pribadi pemain itu sendiri, tetapi gambaran pribadi dari tipe manusia tertentu dengan mealui kedok yang dipakainya. Lalu bagaimanakah para pakar psikologi mendifinisikan kepribadian itu sendiri? Apakah aspek-aspek kepribadian itu? Lalu bagaimana kepribadian itu berkembang?

Pengertian

Kepribadian itu memiliki banyak arti, bahkan saking banyaknya boleh dikatakan jumlah definisi dan arti dari kepribadian adalah sejumlah orang yang menafsirkannya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian dan pengukurannya.
MAY mengartikan keperibadian sebagai �Personalitiy is a social stimus value�. Artinya personality itu merupakan perangsang bagi orang lain. Jadi bagaimana orang lain bereaksi terhadap kita, itulah kepribadian kita.

MecDougal dan kawan-kawannya berpendapat, bahwa kepribadian adalah �tingkatan sifat-sifat dimana biasanya sifat yang tinggi tingkatannya mempunyai pengaruh yang menentukan�.

Sigmund Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yaitu Id, Ego dan Superego. Dan tingkah laku, menurut Freud, tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kerpibadian tersebut.

Sedangkan Gordon W. Allport memberikan difinisi kepribadian sebagai berikut: �Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem praktis psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan�.

Dari difinisi tersebut ada beberapa unsur yang perlu dijelaskan, yaitu sebagai berikut:

Organisasi dinamis, maksudnya adalah bahwa kepribadian itu selalu berkembang dan berubah walaupun ada organisasi sistem yang mengikat dan menghubungkan sebagai komponen kepribadian.

Psikofisis, ini menunjukan bahwa kepribadian bukanlah semata-mata material fisik), tetapi merupakan perpaduan kerja antara aspek psikis dan fisik dalam kesatuan kepribadian.

Istilah menetukan, berarti bahwa kepribadian mengandung kecenderungan-kecenderungan menentukan (determinasi) yang memainkan peran aktif dalam tingkah laku individu. Kepribadian adalah sesuatu dalam melakukan sesuatu. Kepribadian terletak dibelakang perbuatan-perbuatan khusus dan di dalam individu. Dalam arti kepribadian itu bukan hanya ada selama ada orang lain bereaksi terhadapnya, tetapi lebih jauh dari itu mempunyai eksetensi real (keadan nayata), yang termasuk di dalamnya segi-segi neural dan fisiologis.

Unique (khas), ini menunjukan bahwa tidak ada dua orang yang mempunyai kepribadian yang sama.

Menyesuaikan diri terhadap lingkungan, ini menunjukkan bahwa kepribadian mengantari individu dengan lingkungan fisik dan lingkungan psikologisnya, kadang-ladang menguasainya. Jadi kepribadian adalah suatu yang mempunyai fingsi atau arti adaptasi dan menentukan.

Berdasarkan penjelasan Allport tersebut kita dapat melihat bahwa kepribadian sebagai suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) merupakan suatu struktur dan sekaligus proses. Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah. Secara eksplisit Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan.

Dari beberpa difinisi yang telah dibuat oleh mereka, maka dapat disimpulkan bahwa:

Kepribadian itu merupakan suatu kebulatan, dan kebulatan itu bersifat kompleks, sedang kekomplekskannya itu disebabkan oleh karena banyaknya faktor-faktor dalam dan faktor-faktor lauar yang ikut menentukan kepribadian itu. Paduan antara faktor-faktor dalam dan faktor-faktor luar itu menimbulkan gambaran yang unik. Artinya tidak ada dua orang yang memiliki kepribadian yang benar-benar sama persis.

Aspek-Aspek Keperibadian

Para ahli psikologi memberikan penekanan bahwa yang dipelajari oleh psikologi bukanlah jiwa, tetapi tingkah laku manusia, baik perilaku yang kelihatan (overt) maupun yang tidak kelihatan (covert).

Tingkah laku manusia dianalisis ke dalam tiga aspek atau fungsi, yaitu:

Aspek Kognitif (pengetahuan), yaitu pemikiran, ingatan, hayalan, daya bayang, inisiatif, kreativitas, pengamatan, dan pengindraan. Fungsi aspek kognitif adalah menunjukkan jalan, mengarahkan, dan mengendalikan tingkah laku.

Aspek Afektif, yaitu kejiwaan yang berhubungan dengan kehidupan alam perasaan atau emosi, sedangkan hasrat, kehendak, kemauan, keinginan, kebutuhan, dorongan, dan element motivasi lainnya disebut aspek konatif atau psiko-motorik (kecenderungan atau niat tindak) yang tidak dapat dipisahkan dengan aspek afektif. Kedua aspek tersebut sering disebut aspek finalis yang berfungsi sebagai energi atau tenaga mental yang menyebabkan manusia bertingkah laku.

Aspek Motorik, yaitu berfungsi sebagai pelaksana tingkah laku manusia seperti perbuatan dan gerakan jasmani lainnya.

Perkembangan Kepribadian

Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan, namun dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi, terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik. Erikson mengemukakan tahapan perkembangan kepribadian dengan kecenderungan yang bipolar:

1. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust � mistrust. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis.


2. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy � shame, doubt. Pada masa ini sampai batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di pihak lain dia telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.


3. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative � guilty. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat.

4. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry�inferiority. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.


5. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity � Identity Confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitasdiri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota.


6. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy � isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.


7. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. Sesuai dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal� hal tertentu ia mengalami hambatan.


8. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity � despair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya.

Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini:
Ericson tidak merasa bahwa semua periode yang penting dalam bertambahnya perbuatan yang disengaja dan kemampuan yang lebih tinggi terjadi pada masa kritis secara berturut-turut. Ia menegaskan bahwa perkembangan psikologi terjadi karena tahapan-tahapan kritikal. Kritikal adalah karateristik saat membuat keputusan antara kemajuan dan kemunduran. Pada situasi seperti ini bisa saja terjadi perkembangan atau kegagalan, sehingga dapat mengakibatkan masa depan yang lebih baik atau lebih buruk, tetapi sebetulnya situasi tersebut dapat disusunkembali. Ericson percaya bahwa kepribadian masih dapat dibuat dan diubah pada masa dewasa.


Ingat keperibadian itu bisa berubah, entah itu ke arah yang psitif atau negatif, semakin matang atau malah mundur. Tentu yang kita inginkan adalah menjadi pribadi yang baik , baik itu di mata kita atau lebih-lebih di mata orang-orang banyak yang hidup berdampingan dengan kita. Bukan begitu?


Daftar Pustaka:

Agus Warsito, Drs., Halem Lubis, Drs., dan Taufik Hadi, Drs., Psikologi Perkembangan, Jakarta: Bumi Aksara, 2006.

Abu Ahmadi, H. Drs. Dan Munawar Sholeh, Drs., Psikologi Perkembangan Untuk Fakultas Tarbiyah IKIP SGPLB Serta Para Pendidik, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 2005.

Nana Syaodi Sukmadinata, Prof., Dr. Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya 2004.

Sumadi Suryabrata, B.A., M.A., Eds, Ph.D., Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 2005.

Sunday, 13 July 2008

Memaknai Masa Orientasi Siswa (MOS)

Ibarat seorang ibu yang sedang mengandung, tentu perlu mempersiapkan kelahiran anaknya dengan sebaik-baiknya. Begitu juga degan sebuah sekolah yang akan menyambut kedatangan siswa baru, supaya anak-anak baru itu bisa masuk sekolah dengan gembira, optimis, tahu tentang apa yang harus dilakukan, tahu dan mau menjalankan proses belajar dan menerima kebijakan sekolah. Singkatnya siswa memiliki orientasi yang jelas tentang sekolah yang ia pilih. Untuk mencapai tujuan itu maka dilaksanakanlah Masa Orientasi Siswa (MOS). Tujuannya adalah untuk mengenalkan siswa baru dengan kondisi sekolah, setiap kegiatan yang ada di MOS diarahkan ke sana. Peran MOS sebagai pintu masuk di sebuah sekolah, maka MOS memiliki arti yang sangat penting. Mengingat langkan awal yang baik merupakan awal yang baik pula untuk kesuksesan di masa yang akan datang.

Namun sungguh ironis jika kita membicarakan MOS pada saat ini. Entah berrmula sejak kapan? sampai kapan keadaan seperti ini akan berjalan? Bagaimana tidak? MOS yang tujuannya sebagai wahana mengenalkan para siswa dengan lingkungan baru, telah menjadi suatu ajang/lahan balas dendam. �Kalo aku dulu begini, maka mereka juga harus begini�!. Ungkapan itulah yang sering muncul.

Sebagai contoh MOS jadi ajang Perploncoan adalah: 1) Peserta harus mengenakan atribut yang aneh-aneh. Ini nggak relevan dengan dunia pendidikan. Pada dasarnya boleh mengenakan atribut, namun mok yao yang sesuai dengan dunia pendidikan. 2) Acara baris berbaris disiang hari waktu terik matahari berada tegak diatas kepala. Bukannya ini penyiksaan, sedangkan senior berada ditempat yang agak teduh. 3) Jika ada kesalahan dari peserta, senior membentak peserta dengan semaunya, ditamabh lagi hukuman fisik yang sangat menlelahkah, (push up, set up, lari keliling lapangan, dll). 4) Dll

Hendaknya MOS benar-benar menjadi masa membentuk karakter individu yang terintegrasi sejalan dengan visi dan misi sekolah. Ini bisa dilakukan mulai dengan latihan dan penanaman sikap disiplin diri, tanggung jawab, mengenali potensi diri dan menemukan motivasi diri dalam belajar, melatih kepekaan agama dan sosial. Jenis kegiatannya bisa berfariasi sesuai dengan kebutuhan sekolah.

Penamanan disiplin diri dilatih melalui ketetapan waktu. Pengenalan tata tertib sekolah untuk memberi gambaran yang jelas terhadap apa yang bisa dilakukan dan dikembangkan di sekolah dan apa yang mestinya dihindari. Di samping itu juga ditanamkan sikap tanggung jawab terhadap konsekwensi dari apa yang dilakukannya, maka kalau ada siswa yang melanggar kesepakatan diberi sanksi. Penjelasan tentang kurikulum sekolah juga harus dilakukan, agar siswa tahu apa yang harus dipelajari selama belajar di sekolah.

Siswa diajak untuk mengenali kemampuan dan mengembangkan diri diri khusunya dalam membongkar konsep-konsep negatif dan diganti dengan konsep dan pikiran yang psisitif tentang diri dan orang lain.

Menyadari kekuatan dan pikiran manusia dalam memotivasi untuk mencapai apa yang dipirkan. Siswa dilatih utuntuk selalu menggunakan bahasa yang positif tentang dirinya dan orang lain. Siswa diajak untuk menenal kemampuan otak kiri dan otak kanan dan mengembangkan otak kanan sehingga berimbang.

Untuk memotivasi siswa dan menanamkan rasa kebanggaan terhadap sekolah yang telah dipilihnya, bisa dilakukan dengan mrndatangkan kaka kelas atau alumni yang berprestasi baik di bidang akademik ataupun non akademik, untuk mensaringkan pengalaman perjuangan mereka, sehingga mendorong mereka untuk lebih berprestasi untuk masa depan. Akhirnya siswa diajak untuk memikirkan orang lain yang kekurangan dan membangun solidaritas dengan mereka.

Alwal yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula untuk berikutnya, semoga dengan orientsi yang baik siswa faham akan diri, akan jadi apa? Mau melanjutkan kependidikan mana?. Dengan tujuan/sasaran yang jelas maka siswa bisa lebih fokus dalam belajar, sehingga siswa benar-benar berkembang dan meraih cita-citanya berguna bagi agama, nusa dan dan bangsa. Dan semoga di tahun-tahun yang akan datang tidak ada lagi perploncoan dalam MOS. Bagaimana pendapat anda.

Mahalnya Pendidikan di Indonesia

Tanggal 1 Juli kemarin ketika saya menyaksikan berita di sebuat setasiun televisi lokal Jawa Tengah, hati saya heran plus terharu ketika manyaksikan seorang ibu tua menuturkan mengapa anaknya tidak diterima di sebuah sekolah SLTA Negeri favorit di Semarang, �anak saya tidak diterima karena uang pangkal (baca: sumbangan untuk sekolah) kurang besar.�, tuturnya. Padahal anak dari orang tua tersebut memiliki nilai rata-rata kelulusan yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan anak-anak lainnya yang diterima di sekolah tersebut. (Kok bisa ya? Ya iyalah.. ada uang gitu lho�) Uniknya lagi hal yang sama tidak hanya terjadi pada orang tua dan anaknya tersebut, hal yang sama juga dialami oleh anak-nak yang memiliki prestasi tinggi namun secara keuangan mereka kurang mampu. Akhirnya mereka harus memilih alternatif sekolah lain, yang belum tentu cocok dengan keinginan dan mungkin kualitasnya belum tentu sama dengan sekolah-sekolah negeri favorit yang ada.
Berdasarkanebut Surat Keputusan Wali Kota Semarang (Sukawi Sutarip) Nomor 6 Tahun 2008, tahun ajaran baru ini sistem penerimaan siswa baru di sekolah negeri Kota Semarang menggunakan dua jalur, yakni jalur khusus dan reguler. Sukawi mengizinkan sekolah memungut sumbangan dari wali murid lewat jalur khusus. Maka sejumlah SMP dan SMA negeri, terutama yang favorit, berlomba mengeruk uang orang tua murid, mulai dari Rp 2,5 juta hingga Rp 20 juta (wooow..), sebagai persyaratan penerimaan siswa baru. "Kalau ada wali murid yang mau menyumbang sekolah, masak ya dilarang?" kata Sukawi, Rabu pekan lalu.

Kok bisa gitu yaa..? (Anda bingung? sama) Disadari atau tidak oleh oleh yang berujar, apa yang telah dilakukan sebetulnya telah melegalkan segala bentuk pungutan liar oleh sekolah, apa lagi dengan nominal yang begitu besar. Sekolah yang dianggap favorit ramai-ramai kenduri menyantap hidangan yang enak tersebut, siapa yang mau bayar mahal dialah yang bisa masuk ke sekolah kami (mungkin itu kata mereka yaa..).

Penggalan cerita dan sedikit uraian di atas tadi sanggat menarik untuk disimak lantaran mengandung dua alasan utama. Pertama, cerita itu sangat "mengharukan" karena hanya dapat ditarik kesimpulan bahwa betapa di negeri ini untuk sebuah bangku sekolah itu harus "dibeli" dengan harga yang mahal, yang tentunya begitu berat dirasakan oleh sebagian besar masyarakat.

Betapa tidak, untuk memasukkan anaknya ke sekolah pada saat ini orangtua diharuskan terlebih dahulu membayar uang pangkal Rp 2 jutaan. Bahkan lebih. Itu baru masuk SD. Semakin tinggi jenjang pendidikannya, uang pangkalnya juga akan semakin tinggi. Bisa mencapai 4 juta hingga 20 jutaa. (Wooow�) Dan lagi-lagi, itu baru perkara uang pangkal. Tagihan lainnya yang mencekik leher orangtua adalah SPP yang berkisar antara Rp 150.000 - Rp 700.000 per bulan (tergantung status dan favorit tidaknya sebuah sekolah), uang pakaian seragam, uang buku, uang kegiatan, dan tagihan lainnya dari sekolah. Begitu mahalnya biaya yang dibutuhkan, maka sekolah akhirnya hanya bisa dimasuki mereka yang berduit semata, sedangkan mereka yang berekonomi lemah terpaksa harus gigit jari dan mata melotot melihat mereka yang menikmati ceriahnya bangku sekolah.

Kedua, cerita yang sama, juga memberi kita "rasa takjub" sebab ada kegigihan yang luar biasa dari para orangtua untuk menyelamatkan masa depan anak mereka di sebuah tempat bernama sekolah. Bagi orangtua, sekolah tampaknya masih dijadikan tempat yang bisa mengubah nasib anak-anak mereka. Rasa takjub yang sama akan kita saksikan jika kita berlibur di desa-desa pada saat liburan sekolah. Ternyata di sana juga tidak sedikit orangtua yang disibukkan dengan menjual sawah dan berbagai ternak untuk biaya sekolah anaknya.

Begitulah kenyataan yang menjadi kalender tetap yang tersembunyi di balik kalender pendidikan nasional kita. Penggalan sedikit cerita itu menghadirkan satu pertanyaan menggelitik; masih adakah sekolah bagi mereka yang miskin dan kurang di negeri ini?
Kisah "mengharukan" dan "menakjubkan" di atas sepertinya memperjelas terminologi bahwa "orang miskin di negeri ini dilarang sekolah". Dari hari ke hari kaum miskin makin kehilangan hak-haknya yang telah dirampas oleh pembangunan yang tunduk pada pasar. Kian hari jumlah orang miskin kian bertambah, sedangkan kekuasaan makin menjauh dari mereka.

Semenjak neoliberalisme menjadi program utama yang dianut bangsa ini, sejak itu juga orang miskin semakin sulit untuk menikmati pendidikan, pelayanan kesehatan, tempat tinggal yang memadai, dan pekerjaan yang layak. Neoliberalisme sebagai ideologi dunia seolah telah sukses meluluhlantakkan pertahanan hidup orang miskin untuk berpendidikan.

Tidak bisa dimungkiri lagi bahwa pendidikan model pasar telah menjadi mesin produksi yang harus bekerja terus-menerus dengan logika "efektivitas dan efisiensi" untuk menciptakan "generasi intelektual instan" yang serba seragam, termasuk seragam dalam cara pemikirannya. Model pendidikan seperti ini kemudian mengenyampingkan sebuah proses pendidikan yang di dalamnya terdapat titik-titik pencerahan dan pembebasan manusia dari keterkungkungan. Hasil dari proses pendidikan dengan logika efektivitas dan efisiensi itu adalah hadirnya para koruptor dan munculnya manusia yang berwatak kasar.

Perlu dipertanyakan kemudian adalah komitmen pemerintah mengenai kebijakan di bidang pendidikan. Selama ini, sangat terasa janggal di mana subsidi pendidikan lebih kecil daripada subsidi militer. Hal ini merupakan bukti bahwa pemerintah lebih bangga dan senang dengan kekerasan daripada kecerdasan warga negaranya yang bisa muncul melalui pendidikan.

Sekadar perbandingan saja, kalau kita menengok kebijakan Pemerintah Republik Rakyat China (RRC), misalnya, di sana pemerintahnya mampu membiayai 5.000-10.000 mahasiswa untuk belajar ke Eropa. Hal yang sama dilakukan oleh Perdana Menteri Malaysia yang tiap tahun mengirim 50.000 calon doktor, antara lain, ke Inggris dan Amerika. Jumlah seperti itu dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah karena pemerintah di dua negeri ini "melek pengetahuan".

Di negara ini kondisinya malah kebalikannya. Hingga saat ini, hanya mereka yang berkantong tebal yang bisa menikmati pendidikan bermutu di luar negeri. Karena mereka harus mengeluarkan biaya sendiri untuk biaya pendidikannya di negeri orang, maka sepulangnya ke Tanah Air para ilmuwan itu berusaha untuk "mengembalikan modal" dengan berbagai cara. Korupsi kemudian menjadi sesuatu hal yang tidak luput dari perilaku mereka. Dan, kasus korupsi miliaran di negeri ini justru banyak dilakukan oleh para intelektual dan akademisi.

Selain pemerintah tidak memberikan perhatian besar pada dunia pendidikan, pemerintah bahkan ikut merusak lembaga pendidikan dengan "menciptakan suasana tidak aman" di dalam negeri. Konflik yang berlarut-larut di banyak daerah dan "tambal sulamnya" kebijakan dalam dunia pendidikan, membuat dunia pendidikan di negeri ini jauh tertinggal dari negara-negara tetangga.

Ekses dari minimnya keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan maka kini bertebaranlah mental-mental "rapuh" yang muncul dalam perilaku korupsi pada pribadi-pribadi pejabat bangsa ini. Korupsi yang merambah ke semua sektor, termasuk sektor pendidikan sendiri, kini seolah menjadi "benang basah yang sulit ditegakkan". Bahkan, hingga hari ini penyelenggaraan pendidikan sering kali tanpa tahu malu dan basa basi terutama dalam mempraktikkan tindakan tercela dalam berbagai kegiatan sekolah dan proyek-proyek lainnya.

Kini sudah saatnya kebohongan besar seperti ini harus dihentikan dan proses penyadaran bagi masyarakat harus diteriakkan. Bukan pendidikan yang menipu kita selama ini, melainkan pihak-pihak (oknum-oknum) yang memanfaatkan pendidikan untuk meraup laba yang telah menipu masyarakat bangsa ini. Pendidikan telah dipoles cantik dengan gedung-gedung megah dan janji-janji menggiurkan, yang membuat terbatasnya akses masyarakat ke dunia pendidikan.

Hanya dengan pendidikan murah, negeri ini akan diselamatkan. Dengan pendidikan murah, masyarakat akan bergembira menduduki bangku sekolah. Dengan perasaan senang, masyarakat bebas mengungkapkan berbagai kreativitas yang ada dalam dirinya.

Dan, dengan penyelenggaraan pendidikan murah juga akan mudah mengontrol perilaku korupsi yang marak terjadi pada berbagai sektor kehidupan, termasuk dalam sektor pendidikan itu sendiri; karena dana yang sedikit akan mudah diketahui dan dipertanggungjawabkan. Dan, dengan pendidikan murah diskriminasi terhadap orang miskin untuk tidak boleh sekolah bisa dihindarkan. Singkat kata, dengan penyelenggaraan pendidikan murah, orang miskin tidak lagi dilarang untuk sekolah.

Sumber Bacaan:
http://www.jakartateachersclub.com
http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=38187&ik=3
http://forum.detik.com/showthread.php?t=2985

Saturday, 12 July 2008

Cara Membuat Blog (Ngeblog Yuu..)

Mungkin diantara sobat-sobat sekalian ada yang belum tahu tentang blog dan bertanya-tanya tentang blog, maka tidak ada salahnya kalau saya akan mengulas sedikit tentang blog menurut pengetahuan saya sendiri. Sedikit ja zzzzz (coz q juga baru tahu kemaren2, heheheee�)

Apa itu Blog ?

Blog (singkatan dari Web log) adalah situs yang sifatnya lebih pribadi, yaitu lebih berat kepada penggambaran dari si pembuat blog itu sendiri.

Blog dibuat oleh para desainer penyedia blog agar bekerja secara otomatis dan mudah untuk dioperasikan, jadi bagi kita-kita yang masih bingung dengan bahasa pemrograman untuk membuat sebuah website tidak jadi persoalan. Apabila sobat sudah bisa membuat sebuah account email di internet, maka dalam membuat blog pun saya yakin sobat bisa. Cara membuat blog Seperti halnya ketika kita membuat e-mail, dalam membuat blog pun kita harus mempunyai sebuah account terlebih dahulu, maka langkah pertama adalah mendaftarkan diri kita terlebih dahulu di free blog provider (penyedia hosting/domain blog gratis). Ada banyak Free blog provider yang terdapat di internet dan beberapa yang sering dipakai oleh sobat-sobat kita adalah http://www.blogger.com/, http://www.wordpress.com/ serta http://blogsome.com/. Kali ini saya akan membahas tentang cara pembuatan blog di http://www.blogger.com. Untuk menuju situs tersebut silahkan klik di sini. terus silahkan sobat klik gambar dibawah untuk mendaftar.

Setelah sobat berada pada situs blogger.com, sobat akan melihat gambar seperti gambar di atas. Silahkan lakukan langkah-langkah berikut ini :
Klik tsobat anak panah yang bertuliskan " CIPTAKAN BLOG ANDA "
Isilah Alamat Email dengan alamat email sobat (harus yang asli n valid lho..)

Isikan kembali alamat email sobat tadi pada form Ketik ulang alamat email

Tuliskan password yang sobat inginkan pada form Masukkan sebuah password

Isikan kembali password sobat tadi pada form Keyik ulang sandi (password)

Isi Nama Tampilan dengan nama yang ingin sobat tampilkan (boleh nama sobat n yang lain2nya, terserah sobat dech..)

Tulis tulisan yang tertera pada form Verifikasi Kata. Beri tanda tik/cek pada kotak di pinggir tulisan Saya menerima Persyaratan dan Layanan.

Klik gambar anak panah yang bertuliskan "LANJUTKAN"

Tuliskan judul blog yang sobat inginkan (nanti bisa di rubah lagi kok..) pada form Judul Blog

Tulis nama situs sobat pada form Alamat Blog (URL)

Tulislah tulisan verifikasi yang ditampilkan pada form Verifikasi kata (bisa cita2, harapan, moto hidup, dan lain2, up to you dech�), jika sudah selesai klik gambar panah yang bertuliskan "LANJUTKAN".

Pilihlah gambar (template) yang sobat inginkan (nanti bisa di rubah lagi, mungkin kalau kurang cocok maksudnya..), kemudian klik gambar anak panah yang bertuliskan "LANJUTKAN"

Setelah keluar tulisan "Blog anda telah di iptakan". Klik gambar panah bertuliskan "MULAI POSTING". Silahkan sobat tuliskan semau sobat. Bagi para pemula (seperti saya hehe..), biasanya kita bingung setelah daftar membuat blog apa yang harus di isi (diposting ) dalam sebuah blog. Tentunya isi dari sebuah blog terserah kepada si pemilik blog itu sendiri, apakah mau di isi artikel, cerita, puisi, materi kuliah atau sekolah, ataupun lainnya. Nah di sini saya menyarankan (bukan maksud saya mengurui lho..), tulislah dalam blog sobat tersebut dengan hoby ataupun minat serta keahlian sobat sendiri, karena tentu saja di luar sana banyak sekali orang yang tentunya sama minat dan hobynya dengan sobat, sehingga mereka akan tertarik untuk membaca tulisan-tulisan sobat, dan pada akhirnya kita bisa bertukar ilmu gitu lho..
Jika sudah selesai klik tombol "MEMPUBLISKAN POSTING".

Jika sudah selesai dan muncul tulisan �Lihat Blog�, klik, taraaaa� blog sobat jadi dech n bisa diakses oleh orang-orang di seluruh dunia.

Untuk mempercantik blog sobat, sobat bisa tanya teman-teman yang lebih tahu atau baca-baca di internet, coz banyak sobat-sobat kita yang telah memposting banyak hal tentang mempercantik dan memperhias blog. Coba klik di sini. Atau tanya saya (kayak dah pinter ja zz.. heee�). Oke good luck dech sobat�

Disalin dari:
Blog Kang Romhan

Umat Islam Mempelajari Filsafat?

Oleh: Drs. Muhammad Azhar, MA.

Dunia filsafat telah lama hilang dari kaum Muslimin, kecuali di kalangan Syi�ah. Kini, umat Islam perlu menghidupkan kembali tradisi filsafat. Persoalan-persoalan duni terlampau sederhana jika hanya dihadapi secara praktis minus pikiran besar. Adakah kaum Muslimin siap dan dari mana mulai belajar filsafat?

Mempelajari filsafat itu dikatakan gampang-gampang susah. Umumnya orang berpendapat bahwa untuk mempelajari filsafat memerlukan pikiran yang serius, serba njlimet serta berbagai gambaran kerumitan lainnya. Sebenarnya, untuk mempelajari filsafat itu bisa ditempuh dengan cara yang lebih rileks dan mudah. Bagi para pemula, buku Dunia Sophie menarik untuk dibaca. Buku tersebut merupakan buku filsafat, namun penyajiannya seperti kita membaca buku novel. Untuk buku yang lebih serius lagi, namun masih mudah untuk dicerna, adalah buku yang ditulis oleh Titus, Nolan dan Smith, Living Issues on Philosophy. Buku ini telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Prof. Dr. HM. Rasyidi (mantan mentri Agama RI yang pertama), menjadi: Persoalan-Persoalan Dalam Filsafat. Buku ini sudah suli dicari dalam toko buku, kecuali dalam bentuk kopian.

Bagi pemeluk agama Islam, kadang ada keraguan untuk mempelajari filsafat, seolah-olah, kalau sudah mempelajari filsafat, maka aspek keimanan akan semakin berkurang. Bahkan konon ada mahasiswa IAIN yang setelah belajar filsafat malah tidak mau lagi shalat. Padahl banyak mahasiswa yang tidak shalat bukan karena mendalami filsafat. Kalaupun ada fenomena seperti mahasiswa IAIN tadi, frekwensinya relatif kecil. Ibarat belajar renang, mendalami filsafat butuh pembiasaan dan waktu yang relatif lama. Bila sudah mahir maka tidak ada lagi persoalan.

Secara akademis, berfilsafat berarti mencoba berfikir secara lebih radikal (mendalam) dalam memahami sesuatu. Dalam tradisi filsafat Barat, masalah ketuhanan pun perlu dikaji secara filosofis. Dalam Islam Mungkin tidak sejauh memahami tentang zat Tuhan, tetapi sekadar eksistensi Tuhan di alam ini. Seperti sabda Nami, tafakaru fi khalqillah wal tafakaru fil khaliq (pikirkanlah semua ciptaan Allah, dan jagan memikirkan tentang zat Allah). Namun tentang keberadaan Allah dikatikan dengan keberadaan alam ini, boleh-boleh saja kita pikirkan, dan memang sebuah keharusan. Imam al-Ghazali memang cenderung menempuh jalah tasawuf dalam memahami Tuhan. Filsafat, kata al- Ghazali, tidak dapat �menemukan� Tuhan. Mirip dengan al-Ghazali Imanuel Kant juga menunjukkan kelemahan jalan rasional dalam memahami hakekat jiwa dan Tuhan.

Selain radikal, mendalami filsafat juga bersifat universal (lintas batas, serba melampaui) dan sistematis. Dan yang menjadi fokus dalam studi filsafat, secara klasik, mengkaji tentang Tuhan, alam, dan manusia. Dalam perkembangan filsafat kontemporer, juga mendalami soal-soal sosial-budaya, bahasa (philosophy of language), ekonomi, politik (political philosophy), hukum, dan lain-lain. Secara metodologis, filsafat mengkaji tentang ontologi ( hakekat sesuatu), epistemologi (cara-cara yang digunakan dalam mengkaji hakekat sesuatu), dan aksiologi (masalah filsafat nilai, tentang baik buruk, atau meliputi wilayah etika).

Untuk mempelajari filsafat memang bisa dengan beberapa cara. Pertama, yakni mempelajari sejarah perkembangan filsafat, sejak era klasik, modern hingga kontemporer. Yang menjadi fokus di sini adalah sejarah perkembangan ide-ide atau aliran filsafat. Kedua, dengan mempelajari tokoh atau pemikir yang telah banyak memberikan banyak kontribusinya dalam pengembangan pemikiran dalam dunia filsafat. Ketiga, bisa juga mempelajari filsafat secara topikal atau tematis. Topik-topik yang hangat dalam kajian filsafat. Keempat, bisa juga mempelajarai filsafat yang terkait dengan bidang-bidang keilmuan; seperti filsafat agama, filsafat politik, filsafat ekonomi, filsafat sejarah, filsafat sosial, dan lain sebagainya. Kajian keempat ini bisa bersifat pemikiran (aliran), studi tokoh, maupun topikal-tematis. Kelima, studi filsafat bisa juga dengan mengunakan pendekatan komparasi yakni mengkaji kelebihan dan kekurangan yang ada dalam masing-masing aliran filsafat. Misalnya, bagaimana pandangan aliran rasionalisme dan empirisme tentang jiwa, manusia, dan lain-lain. Bisa juga perbandingan antar filsuf tentang tema yang sama.
Mengingat pentingnya kajian filsafat ini, sudah selayaknya umat Islam kembali menghidupkan tradisi berfikir filosofis yang selama ini telah hilang dari khazanah pemikiran umat Islam. Sebenarnya, tradisi filsafat sampai hari ini masih terus berlanjut di kalangan dunia Syi�ah, namun dunia Sunni telah lam mengabaikan bahkan �mengharamkan� filsafat. Boleh jadi karena pengaruh kitab al-Ghazali Tahafut al-Falasifah. Sehingga sementara orang berpendapat bahwa al-Ghazali sangat anti filsafat. Sebenarnya, al-Ghazali tidak anti sepenuhnya pada filsafat, karena al-Ghazali sendiri sudah sangat kenyang dalam mendalami filsafat.

Andaikata ia anti filsafat, maka judul bukunya di atas menjadi Tahafut al-falsafah. Kata-kata al-falsafah sendiri berbeda dengan al-falasifah. Al-Falsafah adalah ilmu filsafat itu sendiri, sedang Al-Falasifah (para filosof). Dalam bukunya dimaksud, al-Ghazali hanya menoloak tiga perkara dari 20 perkara yang dikemukakan oleh Ibnu Rusd, cs. Ketiga topik yang ditolak al-Ghazali adalah tentang: keabadian alam, Tuhan tidak mengetahui hal-hal yang kecil (juziyyah), tidak ada kebangkitan jasmani pada hari kiamat kelak. Sedangkan 17 masalah lainnya, al-Ghazali dapat menerima. Bagi al-Ghazali, bila ketiga tema di atas tersebut dibenarkan, berarti sangat bertentangan dengan konsep keabadian dan keesaan Allah. Sayangnya umat Islam menggeneralisir penolakan al-Ghazali di atas. Yang menarik, adalah ada kiai yang anti filsafat, padahal di pesantrenya ia sudah belajar �ilm al-mantiq (ilmu logika) sebagai ilmu dasar dari filsafat. Karena dunia Sunni menabukan filsafat, maka umat Islam Sunni menjadi lemah dalam berfikir analisis. Menjadi umat yang serba tekstual dan normatif.
Di dunia Bara, tradisi filsafat juga tetap hidup, maka tradisi kritis terhadap pemikiran terdahulu sudah menjadi hal bisa di Barat. Sebagai contoh, kalu dulu duni barat mengunakan paham Modernisme yang serba rasional dan positif. Kini dunia Barat sudah mulai merambah ke arah baru yaitu posmodernisme yang meangakui adanya wilayah spiritualisme, pluralisme, dan dekonstruksi. Sebaliknya dunia Islam cenderung memberhalakan pemikiran-pemikiran masa lampau yang oleh Muhammed Arkoun disebut dengan takdis al-fakr (pengsakralan pemikiran).

Orang yang mengakui filsafat kan lebih enak menikmati cara berfikir bebas, mandiri, dan kritis dalam memikirkan fenomena yang ada (tidak menjadi manusia yang serba nrimo). Berfilsafat tidak sekedar melihat gejala yang tampak (fisika) saja, namun menukik secara lebih dalam kepada hal-hal yang ada di bali yang ada (metafisika). Berfilsafat seperti burung rajawali yang terbang di ketinggian sehingga lebih mudah dan jeli melihat keadaan. Memang terkadang orang yang berfilsafat cenderung dianggap orang yang aneh oleh orang di sekelilingnya yang hanya berfikir biasa-biasa saja.
Para filosofis cenderung menjaga jarak dengan semua benda dan keadaan, sehingga lebih cermat mensyiasati keadaan. Resikonya, di menjadi seperti orang yang terasing, karena harus berbeda dan mengambil jarak dari semua yang ada, bahkan mengambil jarak dengan pemikirannya sendiri.

Dalam studi filsafat Islam, paling tidak dikenal tiga aliran; yakni aliran rasional (peripatetik, masyaiyyah); aliran empiris (tajribiyyah); dan aliran intuitif (isyrakiyyah, laduniyyah). Di Barat umumnya hanya dua aliran, empiris dan rasional. Namun para era posmodernisme saat ini, dunia Barat mulai meranbah wilayah intuitif.
Akhirnya, perlu dimaklumi bahwa berfilsafat bukanlah segala-galanya. Karena filsafat ada batasnya, dimana rasio sebagai alat filsafat memang amat terbatas. Filsafat bukanlah satu-satunya jalan kebenaran, di hanya salah satu cara untu mencari kebenaran, di samping ada jalan lain yakni jalan empiris dan intuitif. Berfilsafat berarti lebih mendayagunakan otak kiri (berfikir liner, rasional, sistematik), maka perlu diimbangi dengan upaya fungsionalisasi otak kanan (berfikir sirkular, imajinatif, intuitif).

Berfikir dan beribadah (menjalankan anjuran-anjuran agama) menikmati seni, karya seni dan sebagainya akan lebih dapat menyeimbangkan kehidupan manusi dalam menjalankan aktivitas kesehariannya di dunia ini.

*Disalin dari majalah Suara Muhammadiyah No: 09 Th: ke-88, 1-15 Mei 2003 M

Friday, 11 July 2008

Pengaruh Tayangan Televisi Terhadap Perkembangan Anak

Televisi sekarang telah menjelma sebagai sahabat yang aktif mengunjungi anak-anak. Bahkan di lingkungan keluarga yang para orang tuanya sibuk bekerja di luar rumah, televis telah berfungsi ganda, yaitu sebagai penyaji hiburan sekaligus sebagai pengganti peran orang tua dalam mendampingi keseharian anak-anak.


Ironisnya, di tengah-tengah peran vitalnya selaku media hiburan keluarga, dunia pertelevisian kini telah mengalami disorientasi dalam ikut mendidik penontonnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Titie Said, dunia pertelevisian kini terancam oleh unsur-unsur vulgarisme, kekerasan, dan pornografi (KR, 23/9-2003). Ketiga unsur tersebut hampir-hampir menjadi sajian rutin di sejumlah stasiun televisi serta dapat ditonton secara bebas bahkan oleh kalangan anak-anak. Padahal ketiga unsur itu mestinya dicegah agar tidak ditonton oleh anak-anak mengingat kondisi psikologi mereka yang belum mampu membedakan mana hal-hal yang positif dan mana hal-hal yang negatif dari sebuah tayangan TV.

Harus kita akui, belakangan ini berbagai tayangan televisi cenderung disajikan secara kurang selektif. Tayangan sinetron televisi, misalnya, kini didominasi oleh kisah-kisah percintaan orang dewasa, banyolan-banyolan konyol ala pelawak, intrik-intrik rumah tangga dari keluarga elit, cerita laga dan sejenisnya. Jika terus-terusan ditonton anak, hal ini akan membawa pengaruh kurang sehat bagi mereka. Sementara tayangan film yang khusus disajikan untuk anak-anak sering kali berisi adegan jorok dan kekerasan yang dapat merusak perkembangan jiwa. di sisi lain, aneka acara yang sifatnya menghibur anak-anak, seperti acara permainan, pentas lagu-lagu dan sejenisnya kurang memperoleh prioritas, atau hanya sedikit memperoleh jam tayang.

Masih minimnya komitmen televisi nasional dalam ikut mendidik anak-anak tampaknya menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi para pemilik dan pengelola televisi. Orentasi pendidikan perlu menjadi semangat kerja para pemilik dan pengelola televisi dalam rangka membantu tugas orang tua, sekolah dan masyarakat dalam mengajarkan dan mendidik agama, budi pekerti, etos kerja, kedisiplinan, nilai-nilai kesopanan dan kreatifitas di kalangan anak-anak dan remaja.

Dalam situasi demikian tentu saja akan bersifat kontra produktif jika beberapa stasiun televisi menayangkan berbagai acara yang kurang memupuk upaya penanaman nilai agama dan budi pekerti. Untuk itu, sudah saatnya para pengelola televisi dituntut kesediaannya dalam memperbanyak volume acara yang membawakan pesan-pesan edukatif, positif. Sebaliknya mengurangi volume tayangan yang secara terselubung membawakan pesan-pesan negatif seperti sinetron yang bertemakan percintaan antara siswa dengan gurunya, intrik antar gadis dalam memperebutkan cowok keren, kebiasaan hura-hura, pesta, serta adegan-adegan kurang pantas lain yang membuat kalangan orang tua mengelus dada.

Kita akui, tayangan televisi seperti sinetron hanya sebatas rekaan sutradara yang tak mesti sejalan denga realitas pergaulan remaja kita sehari-hari. tetapi, karena TV telah menjadi media publik yang ditonton secara luas, termasuk kalangan anak-anak, maka akan memberi dampak kurang positif jika isinya bersifat vulgar. Di samping itu, judul sinetron yang selalu mengambil topik-topik tentang percintaan dan pacaran sedikit banyak akan mengajari anak-anak untuk berpacaran, tampil sexy, bergaya hidup trendy dan berorentasi yang penting happy. Walaupun tayangan ini belum tentu ditiru namun tetap akan mengontaminasi pikiran polosnya. Karena efek tayangan TV selama ini terbukti cukup ampuh bagi mereka. Simak saja, tingkah laku sebagian anak-anak remaja kita yang sangat mengidolakan tokoh-tokoh film percintaan dan sejenisnya.

Bertolak dari sini, dapat digarisbawahi bahwa penayangan bertemakan remaja yang kental nuasa percintaannya serta mengambil background anak sekolah seperti berseragan putih biru untuk SLTP maupun berseragan putih abu-abu untu SLTA justru kurang memberikan pra-kondisi bagi tumbuhnya remaja yang cerdas, berakhlak mulia, kreatif, disiplin dan lain-lain. Hal inilah yang membut orang tua menjadi ngeri dan sangat menyayangkan pemutranan sinetron yang miskin kandungan nilainya seperti itu.

Analisa dan Solusi
Munculnya beberapa TV swasta baru, baik yang cakupannya lokal maupaun nasional. Sebenarnya disambut hangat oleh publik. Hal ini lantaran publik merasa memperoleh tambahan berbagai sajian acara baru yang lebih beragam. Booming TV swasta sanggat diharapkan akan memberikan pencerahan budaya sekaligus pencerdasan melalui sajian informasi yang disampaikan secara tajam, objektif dan akurat, dengan sajian informasi yang tajam, maka akan mencerdaskan masyarakat dalam memahami berbagai persolan aktual baik di bidang ekonomi, pilitik, sosial, budaya, dan lain-lain. Disamping itu, TV juag akan memperluas wawasan masyarakat jika mereka aktif mengikuti acara dialog, debat, diskusi dan berbagai acara informatif-edukatif lain yang ditayangkan TV.

Namun tak dapat diingkari kehadiran beberapa TV swasta baru semakin mempertajam tingkat kompetisi bisnis pertelevisian di Indonesia. Sebagai konsekuensinya, para awak TV swasta yang ada, baik pemain lama maupun pemain baru, harus memutar otak untuk memilih strategi jitu dalam menggait pemirsa. Logikanya, jika mereka berhasil merebut simpati penonton secara luas maka sejumlah iklan akan masuk.

Yang menjadi keprihatinan kita, ternyata sebagian TV swasta memilih strategi yang kurang tepat untuk menggaet penonton, diantaranya lewat eksploitasi anak-anak dan remaja secara berlebihan. Dan hal tersebut tampak pada tiga hal. Pertama, judul-judul sinetron selalu vulgar, menantang, dan mengandung unsur pornografi. Kedua, pemilihan aktris yang kebanyakan anak-anak dan remaja belia. Ketiga, jenis peran yang dilakoninya kurang berakar pada budaya pergaulan masyarakat Indonesia, dan bahkan sering kurang sesuai dengan tingkat kematangan psikologis dan umur pemerannya.

Agaknya, pemilihan aktris yang masih belia ini dimaksudkan untu menggaet penonton dari kalangan ABG atau remaja sebanyak-banyaknya. Disamping itu, pemilihan alur cerita yang memilih setting anak-anak sekolah tentunya diorientasikan untuk membidik segmen penonton yang duduk di SD kelas-kelas atas, SLTP, SLTA. Padahal adegan dalam sinetron bersetting sekolahan tersebut sebenarnya belum pantas dilakukan oleh mereka. Apa lagi apa bila kita berpijak pada nilai dan norma agama dan adat ketimuran, tentu peran dan adegan itu tidak layak diekspos di muka umum.

Agaknya, tanyangan TV terbukti cukup efektif dalam membentuk dan mempengaruhi perilaku anak-anak lantaran media ini sekarang telah berfungsi sebagai rujukan dan wahana peniruan (what they see is what they do). Anak-anak sebagai salah satu konsumen media secara sadar atau tidak telah dicekoki budaya baru yang dikontruksi oleh pasar (market ideologi).

Untuk membantu anak agar dapat memanfaatkan tanyangan TV secara positif agaknya sangat membutuhkan peran optimal orang tua, terutama dalam mendampingi dan mengontrolnya. Orang tua harus sabar mendampingi anak-anaknya saat menonton TV. Hal ini perlu dilakukan orang tua agar anak tidak terpolusi oleh �Limbah budaya massa� yang terus mengalir lewat teknologi komunikasi yang hanya mempertontonkan hiburan sampah seperti hiburan opera sabun maupun sinetron akhir-akhir ini.

Orang tua perlu terus mananamkan daya pikir yang kreatif anak dalam belajar. Orang tua tidak perlu melarang anaknya menonton TV. Yang justru mendapat perhatian serius adalah bagaimana orang tua memilihkan acara yang betul-betul bermanfaat bagi pendidikan dan perkembangan anaknya, agar anak tersebut dapat terangsang untuk berfikir kreatif.

Hal tersebut sangat perlu dilakuakn karena mengingat kondisi psikologis anak yang belum matang, akan sulit bagi mereka untuk membedakan mana yang positif dan mana yang negatif. Orang tua perlu senantiasa mandampingi dan membimbingnya. Bentuk kehati-hatian dari para orang tua semenjak dini sangat diperlukan untuk menangkal efek samping (side effect). Yang kemungkinan timbul jika anak-anak dibebaskan menonton berbagai tanyangan TV sekehendaknya.

Kontrol orang tua terhadap tayangan TV juga dapat dilakukan secara langsung kepada stasiun TV yang menayangkannya. Caranya, orang tua dapat melayangkan protes kepada stasiun TV yang menayangkan sebuah acara yang dianggap bernilai negatif. Cara protes ini sekarang lebih mudah dilakukan karena telah disediakan salurannya. Hampir semua TV di Indonesia memiliki telepon, fax, email, bahkan SMS yang bisa dijangkau dari mana-mana. Mereka umumnya menerima layanan pelangan (custumer service) hampir 24 jam. Adaikan ada dua orang dari setiap propinsi di Indonesia yang rela menyempatkan diri �mengawasi�, atau bahkan melakukan protes terhadap setiap tayangan TV yang berbau �sesat�, maka dipastikan stasiun TV akan sangat selektif menampilkan tayangan akibat kewalahan menerima protes dari banyak permirsa. Jihad (memerangi) TV dengan memprotesnya, walau lewat telefon koin, lebih berguna demi satu abad masa depan anak-anak kita.

Bagi pemilik atau pengelola stasiun-stasiun TV itu sendiri, adalah bagaimana dapat memformat acara TV yang mampu melatih anak agar berfikir kreatif. Yaitu dengan lebih menambah acara-acara yang banyak mengandung unsur pendidikan, seperti, kuis anak-anak, sejarah, dan lain sebagainya. Stasiun TV hendaknya betul-betul memikirkan nasib perkembangan generasi bangsa ini. Hendaknya tidak bermuara pada meraup keuntungan yang sebayak-banyaknya, dengan tanpa memikirkan nasib konsumennya. Akan tetapi bagaimana sebuah stasiun TV itu dapat atau ikut andil dalam upaya mendidik generasi bangsa ini, dengan menyuguhkan tayangan-tayangan yang betul-betul bermanfaat.

Kontrol terhadap tayanagn TV di masa depan agaknya akan bertambah optimal jika Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Lembaga Sensor Sinetron mampu berjalan optimal. Kinerja kedua lembaga tersebut sanggat kiat tunggu, terutama dalam tiga hal. Pertama, mencegah unsur pornografi masuk dalam tanyangan sinetron. Kedua, mencegah unsur kekerasan berlebihan dalam sintron. Ketiga, mencegah pandangan dan pemikiran yang menyesatkan masuk dalam tayangan sinetron.
So, yang jelas dan pasti, faktor keterpengaruhan TV terhadap realitas pendidikan kita bukan hanya tugas pengelola TV, orang tua, atau KPI dan LSS, namun merupakan tangggung jawab yang harus dipikul oleh siapa saja yang masih membutuhkan pendidikan dan ilmu sebagai proses pembelajaran dan menaruh peduli terhadap perkembangan dan masa depan generasi bangsa ini.

Wallahu �alam bis shawab

Daftar Pustaka:
Nurudin Televisi Agama Baru Masyarakat Modern Malang: UMM Press 1997.
Zubaidi Dr. M.Pd. Pendidikan Berbasis Masyarakat Upaya Menawarkan Solusi Terhadap Berbagai Problem Sosial Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2006.

Hirarki Kebutuhan Maslow

Aktifitas apa saja yang telah Anda jalankan sampai detik ini? Tentunya banyak sekali, dari saat Anda bangun tidur, lalu Anda mengambil air wudhu kemudian menjalankan salat Subuh (bagi yang Islam). Dan muungkin Anda meluangkan sedikit waktu untuk merapikan kamar sebelum mandi dan sarapan, kemudian Anda berangkat menjalankan aktifitas luar rumah, entah itu di sekolah, kampus, tempat kerja dan seterusnya.

Tentunya sering terfikirkan di benak Anda semua, buat apa Anda menjalankan semua rutunitas tersebut? Buat apa seorang mahasiswa seorang mahasiswa begadang malam menyelesaikan sekripsinya, buat apa guru mengajar murid-muridnya, buat apa seorang manager bekerja di kantornya, dan lain sebagainya, termasuk buat apa saya dan sobat-sobat weblogger lain mau repot-repot membuat dan mengisi halaman blognya? Benarkah hanya untuk mencari penghasilan material? Kepuasan batin? Memenuhi kebutuhan fisik dan mental yang tiada pernah terpuaskan? Ataukan sebuah kewajiban ibadah yang harus dilaksanakan sebagai mahluk Tuhan?

Abraham Maslow (1908-1970) adalah seorang psikolog besar yang mencoba menemukan dan menawarkan jawaban sistematis atas pertanyaan tersebut melalui teorinya yang tersohor, yakni teori hirarki kebutuhan. Menurut Maslow, setiap individu memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tersusun secara hirarki dari tingkat yang paling mendasar sampai pada tingkat yang paling tinggi. Setiap kali kebutuhan pada tingkatan paling bawah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan lain yang lebih tinggi. Pada tingkatan paling bawah, dicantumkan berbagai kebutuhan fisiologis (physiological needs). Kemudian pada tingkatan lebih tinggi dicantumkan kebutuhan akan rasa aman dan kepastian (safety and security needs). Lalu pada tingkatan berikutnya adalah berbagai kebutuhan akan cinta dan hubungan antar manusia (love and belonging needs). Kemudian kebutuhan akan penghargaan dan pengakuan (esteem needs). Dan pada tingkatan yang paling tinggi dicantumkan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri (self actualization needs).

Hiraki Kebutuhan Menurut Maslow
Kebutuha fisik dalam gambar susunan di samping diletakkan paling bawah adalah bukan maksud. Pada saat ini kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan yan paling kuat dan mendasar diantara yang lain. Dalam hal ini seseorang sangat membutuhkan oksigen untuk bernapas, air untuk diminum, makanan, papan, sandang, buang hajat kecil maupun besar, seks, dan fasilitas-fasilitas yang dapat berguna untuk kelangsungan hidupnya, merupakan contoh kebutuhan fisiologis.

Kebutuhan Akan Rasa Aman dan Tenteram (Safety Needs).

Sebenarnya tidak bisa dipungkiri, pada awalnya mayoritas dari aktivitas kehidupan manusia ini adalah untuk memenuhi kebutuhan fisik ini. Segera setelah kebutuhan dasar terpenuhi, orang mulai �cari-cari�. Kebutuhan level kedua, yakni kebutuhan akan rasa aman dan kepastian (safety and security needs) muncul dan memainkan peranan dalam bentuk mencari tempat perlindungan, membangun privacy individual (kebebasab individu), mengusahakan keterjaminan finansial melalui asuransi atau dana pensiun, dan sebagainya.

Kebutuhan Untuk Dicintai dan Disayangi (Belongingness Needs).

Ketika kebutuhan fisik akan makan, papan, sandang berikut kebutuhan keamanan telah terpenuhi, maka seseorang beralih ke kebutuhan berikutnya yakni kebutuhan untuk dicintai dan disayangi (love and belonging needs). Dalam hal ini seseorang mencari dan menginginkan sebuah persahabatan, menjadi bagian dari sebuah kelompok, dan yang lebih bersifat pribadi seperti mencari kekasih atau memiliki anak, itu adalah pengaruh dari munculnya kebutuhan ini setelah kebutuhan dasar dan rasa aman terpenuhi.

Kebutuhan Harga Diri Secara Penuh ( Esteem Needs).

Level keempat dalam hirarki adalah kebutuhan akan penghargaan atau pengakuan (esteem needs). Maslow membagi level ini lebih lanjut menjadi dua tipe, yakni tipe bawah dan tipe atas. Tipe bawah meliputi kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, perhatian, reputasi, kebanggaan diri, dan kemashyuran. Tipe atas terdiri atas penghargaan oleh diri sendiri, kebebasan, kecakapan, keterampilan, dan kemampuan khusus (spesialisasi). Apa yang membedakan kedua tipe adalah sumber dari rasa harga diri yang diperoleh. Pada self esteem tipe bawah, rasa harga diri dan pengakuan diberikan oleh orang lain. Akibatnya rasa harga diri hanya muncul selama orang lain mengatakan demikian, dan hilang saat orang mengabaikannya.
Situasi tersebut tidak akan terjadi pada self esteem tipe atas. Pada tingkat ini perasaan berharga diperoleh secara mandiri dan tidak tergantung kepada penilaian orang lain. Dengan lain kata, sekali anda bisa menghargai diri anda sendiri sebagai apa adanya, anda akan tetap berdiri tegak, madheg pandhito, bahkan ketika orang lain mencampakkan anda!

Kebutuhan Aktualisasi Diri ( Self Actualization Needs)

Ketika kebutuhan akan penghargaan ini telah terpenuhi, maka kebutuhan lainya yang sekarang menduduki tingkat teratas adalah aktualisasi diri. Inilah puncak sekaligus fokus perhatian Maslow dalam mengamati hirarki kebutuhan. Terdapat beberapa istilah untuk menggambarkan level ini, antara lain growth motivation, being needs, dan self actualization.

Maslow melakukan sebuah studi kualitatif dengan metode analisis biografi guna mendapat gambaran jelas mengenai aktualisasi diri. Dia menganalisis riwayat hidup, karya, dan tulisan sejumlah orang yang dipandangnya telah memenuhi kriteria sebagai pribadi yang beraktualisasi diri. Termasuk dalam daftar ini adalah Albert Einstein, Abraham Lincoln, William James, dam Eleanor Roosevelt.

Berdasar hasil analisis tersebut, Maslow menyusun sejumlah kualifikasi yang mengindikasikan karakteristik pribadi-pribadi yang telah beraktualisasi:

1. Memusatkan diri pada realitas (reality-centered), yakni melihat sesuatu apa adanya dan mampu melihat persoalan secara jernih, bebas dari bias.

2. Memusatkan diri pada masalah (problem-centered), yakni melihat persoalan hidup sebagai sesuatu yang perlu dihadapi dan dipecahkan, bukan dihindari.

3. Spontanitas, menjalani kehidupan secara alami, mampu menjadi diri sendiri serta tidak berpura-pura.

4. Otonomi pribadi, memiliki rasa puas diri yang tinggi, cenderung menyukai kesendirian dan menikmati hubungan persahabatan dengan sedikit orang namun bersifat mendalam.

5. Penerimaan terhadap diri dan orang lain. Mereka memberi penilaian tinggi pada individualitas dan keunikan diri sendiri dan orang lain. Dengan kata lain orang-orang yang telah beraktualisasi diri lebih suka menerima kamu apa adanya ketimbang berusaha mengubah diri kamu.

6. Rasa humor yang �tidak agresif� (unhostile). Mereka lebih suka membuat lelucon yang menertawakan diri sendiri atau kondisi manusia secara umum (ironi), ketimbang menjadikan orang lain sebagai bahan lawakan dan ejekan.

7. Kerendahatian dan menghargai orang lain (humility and respect)

8. Apresiasi yang segar (freshness of appreciation), yakni melihat sesuatu dengan sudut pandang yang orisinil, berbeda dari kebanyakan orang. Kualitas inilah yang membuat orang-orang yang telah beraktualisasi merupakan pribadi-pribadi yang kreatif dan mampu menciptakan sesuatu yang baru.

9. Memiliki pengalaman spiritual yang disebut Peak experience. Peak experience atau sering disebut juga pengalaman mistik adalah suatu kondisi saat seseorang (secara mental) merasa keluar dari dirinya sendiri, terbebas dari kungkungan tubuh kasarnya. Pengalaman ini membuat kita merasa sangat kecil atau sangat besar, dan seolah-olah menyatu dengan semesta atau keabadian (the infinite and the eternal). Ini bukanlah persoalan klenik atau takhayul, tetapi benar-benar ada dan menjadi kajian khusus dalam Psikologi Transpersonal, suatu (baru klaim) aliran keempat dalam ilmu psikologi setelah psikoanalisis, behaviorisme, dan humanisme, yang banyak mempelajari filosofi timur dan aspek-aspek kesadaran di luar kesadaran normal (Altered States of Consciousness, ASC). Peak experience bisa jadi merupakan argumen ilmiah yang valid untuk menjelaskan fenomena para rasul yang menerima wahyu dari Allah, atau pengalaman sufistik yang merasa telah memiliki sifat-sifat ketuhanan. Di sini maksudnya bukan sama persis seperti Tuhan, akan tetapi adalah menerapkan sifat-sifat Tuhan seperti Maha Adil, Maha Tahu, dan lain sebagainya sesuai tataran tingkatan manusia. Karena manusia itu tidaklah bisa menyamai sifat dan kemampuan Tuhan secara persis. (ini hanya sekedar pendapat penulis).

Berdasarkan berbagai kualifikasi yang �amat sulit� tersebut, maka tidaklah heran kalau masih sedikit orang di dunia ini yang mencapai level aktualisasi diri tersebut. Bahkan Maslow mengatakan bahwa jumlah orang-orang yang telah beraktualisasi diri tidaklah lebih dari dua persen saja dari seluruh populasi dunia! Bagaimana dengan Anda? Sudah belum? Tidak usah terlalu dipikirkan. Bagi yang telah bisa mencapai taraf aktualisasi diri memang bagus, tetapi untuk sekadar bisa merasa bahagia dan menikmati hidup, kita hanya perlu menjadi diri sendiri apa adanya dan bermanfaat bagi orang lain. Insyaallah.



Biografi Singkat Abraham Maslow


Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tahun 1908 dan wafat pada tahun 1970 dalam usia 62 tahun. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi dan merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara. Selepas SMU Dia mengambil studi hukum di City College of New York (CCNY), sebelum minatnya kemudian beralih pada bidang psikologi, yang dipelajarinya hingga meraih gelar PhD pada tahun 1934 di University of Wisconsin. Setahun kemudian Dia kembali ke New York dan bekerjasama dengan E.L. Thorndike untuk melakukan riset tentang seksualitas manusia (human sexuality) dan menjadi pengajar penuh di Brooklyn College.
Maslow banyak berhubungan dengan intelektual-intelektual Eropa yang baru bermigrasi ke Amerika Serikat seperti Alfred Adler, Erich Fromm, dan Karen Horney. Pada tahun 1951 Maslow berjumpa dengan Kurt Goldstein, seseorang yang mengenalkannya kepada ide tentang aktualisasi diri - yang menjadi bibit dari teorinya tentang hirarki kebutuhan. Pada periode ini pula dia, bersama beberapa psikolog lain seperti Carl Roger �memproklamirkan� aliran ketiga (third force) dari psikologi yang dikenal sebagai humanisme.

Tidak cukup �bermain-main� dengan humanisme, menjelang akhir hayatnya Maslow mengenalkan lagi satu aliran yang dikenal sebagai mazhab keempat, yakni Psikologi Transpersonal, yang berbasis pada filosofi dunia timur dan mempelajari hal-hal semacam meditasi, fenomena parapsikologi, dan kesadaran level tinggi (Altered States of Consciousness, ASC). Maslow meninggal pada 8 Juni 1970 di California karena serangan jantung, setelah kesehatannya memburuk pada tahun-tahun terakhir hidupnya.

Sumber Bacaan:
http://www.ship.edu/%7Ecgboeree/maslow.html
http://www.e-psikologi.com
http://www.blackicedefenblack.blogspot.com